Sejumlah siswa SMP di Jombang masih terlihat mengenakan seragam lama berupa seragam SD. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Sejumlah siswa SMP di Jombang masih terlihat mengenakan seragam lama berupa seragam SD. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)



Program unggulan Bupati dan Wakil Bupati Jombang berupa pemberian seragam gratis berdampak buruk di masyarakat. Pasalnya, para wali murid masih tetap mengeluar sejumlah uang untuk mendapatkan seragam sekolah.

Program seragam gratis ini merupakan janji politik Bupati dan Wakil Bupati Jombang, Mundjidah-Sumrambah saat maju dalam Pemilihan Kepala Daerah 2018 lalu. Program itu pun telah disetujui oleh pihak Legislatif untuk APBD 2019.

Namun, program yang awalnya berupa seragam gratis ini berubah menjadi seragam gratis berupa kain potongan saja. Kain seragam ini untuk diberikan kepada siswa kelas VII SD/ MI dan SMP/MTs Negeri maupun Swasta.

Tak hanya itu, program tersebut berubah lagi dengan membatalkan seragam batik untuk diakomodir di dalam program seragam gratis. Hal ini menjadi sorotan anggota dewan dari Fraksi PKS.

Anggota DPRD Kabupaten Jombang dari Fraksi PKS, Mustofa menuturkan, program seragam gratis itu dinilai tidak membawa manfaat, melainkan malah membebani masyarakat. Pasalnya, dari awal rencana program seragam gratis menjadi hanya kain seragam yang diberikan untuk para siswa.

Bahkan, untuk seragam batik tidak jadi diakomodir Pemkab Jombang di dalam program tersebut lantaran terkendal hak cipta. "Bahkan saat ini pembagian seragam gratis ini malah membebankan siswa dan sekolah. Karena seragam batik sendiri wali murid harus beli dengan harga yang cukup mahal juga," ujarnya.

Berubahnya rencana seragam gratis menjadi kain seragam gratis dan tidak terakomodirnya seragam batik, berdampak kepada para wali murid yang harus mengeluarkan biaya banyak untuk memperoleh seragam sekolah anak-anaknya.

Seperti yang dirasakan oleh wali murid SMPN 1 Jombang RM (38), warga Kecamatan Jombang. Ia harus mengeluarkan biaya seragam sekolah sejumlah Rp 950 ribu. Namun, RM tidak mengetahui rincian seragam yang ia terima dengan pembayaran tersebut karena pihak sekolah tidak memberikan edaran.

"Jadi katanya untuk membeli kain seragam batik, khas, atribut dan ongkos jahit total semua Rp 950 ribu. Karena memang tidak ada edaran dari pihak sekolah," ujarnya saat ditemui sejumlah wartawan, (17/9) pagi.

Mahalnya biaya untuk seragam ini juga terjadi di sekolah lain, yakni SMPN 5 Jombang yang beralamat di Jl KH Hasyim Asy'ari, Kecamatan Jombang.

Salah seorang wali murid di sekolah tersebut mengungkapkan, untuk memperoleh seragam jadi butuh biaya hingga Rp 973 ribu. "Untuk seragam sudah jadi bukan berupa kain," kata YT wali murid SMPN 5 Jombang.

Sementara, Kepala SMPN 1 Jombang, Alim membenarkan untuk biaya seragam keseluruhan mencapai Rp 950 ribu. Menurutnya, harga segitu para siswa menerima bentuk seragam jadi. Termasuk kain seragam yang digratiskan oleh Pemkab Jombang berupa kain untuk seragam nasional, pramuka dan olah raga.

"Jadi itu juga sudah ongkos jahit empat stel seragam, rompi, atribut semua dan kaos kaki. Untuk ongkos jahit sendiri Rp 70 ribu untuk satu stel seragam," bebernya.

Hal senada juga dikonfirmasi oleh Kepala SMPN 5 Jombang, Bambang Wijanarko. Ia mengatakan, untuk harga kain seragam batik maupun khas yang didapatkan sudah sesuai dengan ketentuan.

"Kami tidak menambah sama sekali ya itu Rp 220 untuk satu stel kain batik dan Rp 220 ribu untuk satu stel kain khas," tururnya.

Sedangkan untuk jahitnya, lanjut Bambang, ditawarkan pada wali murid, apakah ikut sekolah ataupun dijahitkan wali murid sendiri. "Kalau ikut sekolah yang kami fasilitasi, tapi kalau wali murid ingin hanya berupa kain dijahit sendiri ya terserah," tandasnya.

Sedangkan, saat disinggung terkait biaya seragam mencapai Rp 975 ribu di SMPN 5 Jombang, Bambang menjelaskan, bahwa besaran biaya tersebut bukan hanya untuk seragam saja. Biaya itu melainkan juga untuk kegiatan sekolah lainnya.

"Itu kemarin ada kehgiatan satu tahun mendatangkan sekolah, HUT dan macem-macem," pungkas nya.(*)


End of content

No more pages to load