Aktivis saat melakukan demo tolak revisi UU KPK di bundaran DPRD Jember. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

Aktivis saat melakukan demo tolak revisi UU KPK di bundaran DPRD Jember. (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)



Aksi penolakan revisi UU KPK juga terjadi di Kabupaten Jember. Senin (16/9/2019) puluhan aktivis kampus, pegiat anti-korupsi, dan jurnalis menggelar demo.

Aksi  dimulai dari Double Way depan Universitas Negeri Jember. Kemudian peserta melakukan long march menuju bundaran DPRD Jember.

Aksi peserta ini mendapat perhatian pengguna jalan dan warga di sepanjang Jalan Kalimantan. Selain adanya keranda mayat dan replika jenazah bertuliskan ‘Membunuh KPK’, ‘The End of KPK’ dan poster lainnya, peserta aksi juga membagikan brosur.

“Aksi ini kami lakukan sebagai bentuk keprihatinan kami terhadap pemerintah yang akan melakukan revisi UU KPK. Jika revisi ini benar-benar diterapkan, ini merupakan kematian awal KPK. Keputusan merevisi UU KPK terlalu terburu-buru dan terkesan dipaksakan. Seharusnya menunggu anggota DPR yang baru,” ujar Trisna Dwi Arista, koordinator aksi.

Selain menolak revisi UU KPK, rencana keberadaan Badan Pengawas KPK juga semakin memperlemah posisi KPK. Menurut perempuan berjilbab ini, KPK merupakan lembaga Independen sesuai dengan semangat reformasi.

“Setidaknya ada beberapa poin yang menjadi sumber kemarahan masyarakat Indonesia terhadap revisi UU KPK. Selain adanya badan pengawas, sinyal KPK akan ditarik menjadi cabang dari kekuasaan juga sebuah kesalahan. Sebab. sejatinya KPK bukanlah cabang kekuasaan ekskutif, legislatif dan yudikatif. KPK adalah lembaga negara Independen,” ujar Trisna.

Aksi yang menamakan diri sebagai Solidaritas Kolaisi Anti-Korupsi (SKAK) ini sendiri diikuti oleh berbagai elemen. Mulai dari aktivis kampus seperti GMNI, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Liga Mahasiswa Nasional Demokrasi (LMND), Forum Wartawan Lintas Media (FWLM), Teater Gelanggang, UKM Fakultas Hukum, hingga Lembaga Pers Mahasiswa Imparsial.

Selain menggelar orasi, peserta aksi juga menggelar drama teatrikal yang menggambarkan susahnya KPK untuk bisa berdiri tegak. Dalam teatrikal ini, salah satu peserta berdiri di atas helm dengan satu kaki. Dia sesekali berdiri kukuh dan sesekali terjatuh.

“Teatrikal ini menggambarkan bagaimana perjalanan KPK saat ini. Sesekali bisa berdiri tegak dengan memberantas koruptor sampai tingkat elit, namun sesekali juga terjatuh karena adanya rongrongan dari pengusul revisi kewenangan KPK,” pungkas Trisna. 


End of content

No more pages to load