Editor In-Chief Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) IAIN Salatiga sekaligus Rektor IAIN Salatiga Prof Dr Zakiyuddin. Baidhawy MAg. (Foto: Humas)

Editor In-Chief Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) IAIN Salatiga sekaligus Rektor IAIN Salatiga Prof Dr Zakiyuddin. Baidhawy MAg. (Foto: Humas)



Pengelola jurnal Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim (UIN Maliki) Malang) terus berbenah diri. Hal ini dilakukan untuk mengejar peningkatan publikasi karya ilmiah.

Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LP2M) UIN Malang Tutik Hamidah menyampaikan kondisi jurnal di UIN Malang. Menurut catatan lembaganya, total jurnal aktif di Kampus Ulul Albab adalah 34. “Namun hanya 17 yang sudah terindeks Sinta,” imbuhnya.

Ia menyatakan, UIN Malang belum memiliki jurnal yang terindeks Scopus. "Kampus kita sudah besar, namun tidak lengkap ketika belum memiliki jurnal yang terindeks Scopus," ungkapnya.

Kondisi ini tentu membuat pihaknya semakin getol dalam membuat forum dan membimbing para pengelola jurnal agar semangat dalam memperbaiki kualitas jurnalnya. Salah satunya adalah workshop Peningkatan Kualitas Pengelola Jurnal yang dilaksanakan di Kota Salatiga yang digelar selama tiga hari (11-13/9/2019).

Panitia khusus mengundang Editor In-Chief Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies (IJIMS) IAIN Salatiga Prof Dr Zakiyuddin Baidhawy MAg. Dalam sesinya, ia menjabarkan sejarah jurnal yang dikelolanya hingga bisa mendapatkan capaian yang memuaskan.

Pria yang baru dilantik sebagai rektor IAIN Salatiga ini memaklumi jika ada yang patah semangat di tengah mengelola jurnal. “Berarti kurang sabar,” kelakarnya.

Ia menambahkan, tidak semua orang memiliki niat dan nyali mengelola jurnal. “Makanya ada istilah ORIGINAL, yaitu orang gila jurnal,” imbuhnya.

Istilah ini muncul karena mengelola jurnal akan menguras waktu, energi, serta pikiran pengelola hingga mengalami stres.

“Proses mengelola jurnal memang begitu. Namun tidak ada yang benar-benar peduli proses yang melelahkan itu,” ujarnya.

Pasalnya, menurut Zaki, yang dilihat pihak kampus dan para penulis adalah hasil akhir. Hal tersebut cukup bisa dimaklumi pula karena keberadaan jurnal bereputasi tentu akan mengangkat martabat institusi dan juga nilai artikel yang dimuat.

Walau proses yang ditempuh panjang, lanjutnya, ia tidak ingin para pengelola jurnal terlalu nyantai. "Proses kok gak ada akhirnya,” lugas rektor dari kampus yang memiliki 15.007 mahasiswa ini.

Ia berpesan agar proses yang ditempuh untuk mengembangkan suatu jurnal harus disertai dengan target. Contohnya, dalam dua tahun sudah harus terindeks Scopus.

 


End of content

No more pages to load