Ilustrasi kuliah daring. (Foto: istimewa)

Ilustrasi kuliah daring. (Foto: istimewa)



Kini Indonesia tengah dihadapkan dengan tantangan era revolusi industri 4.0. Tak hanya sektor ekonomi, sosial, dan teknologi, namun sektor pendidikan juga mau tak mau harus dapat beradaptasi dengan era ini.

Di jenjang pendidikan tinggi, perguruan tinggi didorong untuk melakukan perkuliahan berbasis daring oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) RI. "Perguruan tinggi memang sangat dianjurkan untuk memulai program daring ini mulai dari mata kuliah. Bertahap, ada berapa mata kuliah yang didaringkan dulu. Setelah itu baru program studinya," ujar Sekretaris Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL-DIKTI) Wilayah VII Jawa Timur, Dr Widyo Winarso MPd, saat ditemui di Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang belum lama ini.

Dalam kuliah daring, peserta didik dan dosen berada di lokasi terpisah sehingga memerlukan sistem telekomunikasi interaktif untuk menghubungkan keduanya dan berbagai sumber daya yang diperlukan di dalamnya.

Nah, untuk persiapan sistem pembelajaran daring ini, selain harus memenuhi infrastruktur, yang tak kalah penting adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM). "Kalau infrastruktur, perlu teknologi informasi pasti, dari bandwith dan lain-lain. Tapi lebih dari itu adalah sumber daya manusianya, untuk merancang, men-create, menyiapkan semuanya," jelas Winarso.

Perlu keterampilan untuk mengimigrasi yang semula konvensional menuju daring. Untuk itu, SDM yang punya keterampilan di bidang ini mutlak diperlukan. "Memang lebih banyak ke sumber daya manusianya. Kalau sarana prasarana kan tergantung punya duit atau enggak untuk sewa bandwith dan lain-lain," tandasnya.

Penerapan daring di perguruan tinggi sendiri minimal ada 2 level, yakni pada program studi dan institusi. Winarso menyatakan, untuk perguruan tinggi konvensional, mata kuliah daring pun sebenarnya sudah cukup. Sebab, daring di level institusi memang cukup berat.

"Kalau institusi daring kan berat, untuk jangka panjang, karena sudah miliknya UT (Universitas Terbuka). Kalau untuk perguruan tinggi konvesional di program studi itu sudah cukup sebenarnya. Bahkan mata kuliah pun sudah cukup untuk tahapan awal," bebernya.

Dengan begitu, mahasiswa nanti memiliki banyak pilihan untuk bisa menyelesaikan SKS-nya.


End of content

No more pages to load