Wakil Bupati Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief saat bertemu dengan sejumlah takmir masjid se kabupaten Jember (foto : istimewa / Jatim TIMES)

Wakil Bupati Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief saat bertemu dengan sejumlah takmir masjid se kabupaten Jember (foto : istimewa / Jatim TIMES)



Banyaknya bangunan masjid yang bermega-megahan saat ini. 

Namun masih kurang diminati generasi milenial untuk sekedar mendatanginya, membuat Wakil Bupati Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief angkat bicara. 

Menurut pejabat yang juga pengasuh Pondok Pesantren Al Falah Silo Jember, kurang minatnya generasi milenial untuk mendatangi masjid, dikarenakan kurangnya kreatifitas takmir masjid.

“Takmir masjid harus mampu menjadikan masjid sebagai tempat yang menarik, sehingga generasi milenial suka berkunjung, harus memiliki kreatifitas bagaimana supaya masyarakat, khususnya generasi saat ini suka datang ke masjid di luar aspek pahala, seperti menjaga kebersihan maupun untuk urusan sepele seperti soal kelancaran air,” ujar Wabup Jember Drs. KH. Abdul Muqit Arief.

Dengan adanya kreatifitas dari takmir masjid, maka masjid-masjid khususnya di Jember tidak hanya memiliki kemegahan bangunan fisiknya saja, tapi manajemen takmirnya pun bisa dinikmati oleh masyarakat. 

“Dalam peningkatan SDM, takmir masjid perlu sentuhan dalam rangka untuk memakmurkan masjid, takmir jangan mudah marah terutama kepada anak-anak. Karena hal ini juga akan berdampak tidak baik dikemudian harinya,” beber Wabup.

Hal yang sama juga disampaikan oleh Sekretaris Pengurus Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW DMI) Jatim Drs. H. Suhadi, menurut Suhadi, perkembangan radikalisme saat ini sudah mulai masuk dikalangan remaja, sehingga DMI, Pemkab dan juga Polres akan bersama-sama menata perkembangan aliran radikalisme bagi remaja masjid.

“Memang diperlukan SDM bagi takmir untuk memakmurkan masjid, dengan membuat terobosan yang menarik minat remaja agar mau datang ke masjid. Sehingga generasi milenial bisa dibenahi bersama-sama. Cara seperti ini merupakan bagian dari pencegahan paham radikalisme di kalangan remaja,” ujar Suhadi. (*)

 


End of content

No more pages to load