Ilustrasi barang hasil penindakan di wilayah Bea Cukai Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Ilustrasi barang hasil penindakan di wilayah Bea Cukai Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Hingga awal triwulan III 2019, angka perolehan yang dicatat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Jawa Timur (Jatim) II masih jauh dari target. Dari total target Rp 42,56 triliun, capaian per Agustus 2019 mencapai Rp 23,74 triliun atau baru mencapai 55,8 persen. Meski demikian, DJBC Jatim II masih optimis perolehan akan membaik di akhir tahun.

Ada tujuh wilayah yang diampu DJBC Jatim II meliputi Malang, Kediri, Blitar, Madiun, Jember, Banyuwangi, dan Probolinggo. Target yang tertinggi, yakni di wilayah Malang dan Kediri. Untuk wilayah Malang, mendapatkan target Rp 20,9 triliun dan baru tercapai Rp 11,3 triliun atau di angka 53,9 persen. Sedangkan Kediri, mencapai Rp 11 triliun dari target Rp 19,3 triliun atau 57,43 persen. 

Untuk wilayah Probolinggo, capaiannya 49,8 persen atau Rp 434,9 miliar dari target Rp 872,3 miliar. Jember mencatatkan perolehan Rp 522,7 miliar atau 77,14 persen dari target Rp 677,6 miliar. Untuk Blitar, angkanya masih 48,5 persen atau Rp 141,1 miliar dari target Rp 290 miliar. Madiun dari target Rp 430,8 miliar baru tercapai 50,5 persen atau Rp 217,6 miliar. 

Catatan positif baru ditunjukkan Banyuwangi, meski dari sisi target termasuk yang paling rendah. Angkanya bahkan mencapai 691,6 persen dihitung dari perolehan Rp 6,58 miliar terhadap target Rp 0,95 miliar. "Kalau dirata-rata capaian per kantor wilayah, capaian kami saat ini sekitar 55 persen dari target," ujar Kepala Kanwil DJBC Jatim II Agus Hermawan.

Menurut Agus, ada fenomena tahunan yang terjadi dalam penghimpunan bea dan cukai dari masyarakat. "Biasanya cukai itu ada semacam anomali, di akhir tahun biasanya naik. Mungkin karena ada momen Natal dan Tahun Baru, yang ngrokok mungkin tambah banyak," ujarnya di Malang.

Agus menguraikan, pihaknya mendapatkan target lebih dari Rp 42 triliun dan merupakan target penerimaan terbesar kedua di Indonesia setelah Kanwil DJBC Jatim I di Surabaya. "Dan di sini, hampir 98 persen dari cukai hasil tembakau. Dari 55 persen, perolehannya sekitar Rp 23 triliun lah," sebutnya. 

Menurutnya, target yang besar tersebut karena wilayah Jatim II merupakan basis industri rokok dan tembakau. "Kalau dilihat strukturnya Bea Cukai itu kan termasuk cukai, bea masuk dan bea keluar. Yang lain tidak terlalu besar, terbesar tetap cukai. Kan kalau pelabuhan di bawah kami hanya di Jember dan Banyuwangi," urainya. 

Pihaknya pun optimis bisa mengejar target di sisa tahun 2019 ini. "Hingga akhir tahun ini masih optimis lah. Apalagi kami juga terus menggenjot  penerimaan dengan mengoptimalkan kinerja di waktu yang tersisa ini," pungkasnya. 


End of content

No more pages to load