Ilistrasi  (Foto: Istimewa)

Ilistrasi (Foto: Istimewa)



Masalah stunting rupanya masih menjadi hal krusial di Kota Malang. Apalagi, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyebut Kota Malang menempati posisi tertinggi untuk kasus ini.

Menurut data Dinas Kesehatan (Dinkes) Jatim berdasarkan elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (EPPGBM), per 20 Juli 2019, prevalensi stunting balita di Jatim sebesar 36,81 persen. Kota Malang merupakan daerah yang tertinggi prevalensinya, yakni, 51,7 persen. Disusul Kabupaten Probolinggo 50,2 persen dan Kabupaten Pasuruan 47,6 persen.

Bukan tidak melakukan upaya apa pun, Dinkes Kota Malang sendiri sudah cukup rutin memberikan sosialisasi kepada warganya, terutama ibu hamil. Baik melalui posyandu dan puskesmas.

"Tetap kami akan berupaya karena Kota Malang targetnya zero stunting. Tapi, untuk sampai akhir tahun ini, paling tidak kami inginnya menurun di angka seribu. Kami juga sudah sering sosialisasi melalui kader kesehatan, posyandu, puskesmas untuk memberikan penjelasan masalah stunting kepada ibu-ibu," ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Supranoto.

Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat (Kesmas) Dinkes Kota Malang Linda Desriwati menambahkan, upaya lain yang dilakukan yakni dengan mengarah ke sasaran kaum remaja putri. Menurut dia,  masalah stunting akan lebih baik dilakukan pencegahan sejak masih remaja dengan memenuhi nutrisi gizi yang tepat.

"Permasalahan stunting ini terjadi sejak bayi ada dalam kandungan. Nah, untuk menjadikan nutrisi bayi dalam kandungan itu bagus, maka nutrisi ibunya bagus. Hal ini harus dimulai sejak dia remaja, bagaimana pemenuhan gizinya, makanannya sesuai dengan Isi Piringku dan yang lainnya," ungkap Linda.

Hal tersebut telah dilakukan oleh Dinkes Kota Malang, mulai dari membuat program 'Jumat Berkah'. Yakni ada pemberian  tablet tambah darah tiap Jumat. Setiap siswa putri SMP maupun SMA wajib dalam satu minggu sekali meminum teblet tambah darah itu.

Kemudian, Dinkes juga bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk memberikan sosialisasi khusus pengantin atau 'kursus catin'. Hal ini sebagai salah satu upaya bagi ibu muda untuk mempersiapkan diri saat kehamilan tiba.

"Untuk gizi misalnya, ibu hamil itu lila (lingkar lengan atas) minimal 23,5 cm. Baru itu dianggap bagus gizinya. Kemudian nanti saat hamil rutin melakukan pemeriksaan K1-K4, dan melengkapi makanannya dengan Isi Piringku itu. Ini menjadi penting karena pertumbuhan organ-organ lainnya juga akan berpengaruh jika nutrisi tidak tepat," pungkas Linda.


End of content

No more pages to load