Ilustrasi

Ilustrasi



Rumah hingga saat ini masih menjadi salah satu simbol kemapanan ekonomi. Namun, banyak para pekerja yang masih galau saat bertekad membeli rumah untuk pertama kalinya. Tentunya, ada beragam hal yang harus dipersiapkan dan dipertimbangkan. 

Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) Katarina Setiawan mengungkapkan, perlu kesiapan untuk menumbuhkan tekad membeli rumah. Tidak hanya dari segi kekuatan ekonomi, tetapi juga perhitungan fisik hingga mental. "Karena rumah adalah salah satu pembelanjaan terbesar dalam hidup," ujarnya. 

Poin pertama yang harus dipertimbangkan, menurut Katarina adalah sedini mungkin melakukan perbaikan keuangan. "Mulailah dengan mengatur semua keuangan. Jika ingin membeli rumah dengan cara kredit melalui bank, sementara saat ini masih memiliki utang di perbankan, pastikan pembayaran utang lancar," ujarnya.

Pasalnya, setiap pengajuan kredit ke bank harus melalui proses pengecekan di Bank Indonesia (BI Checking). Termasuk untuk pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR). "BI Checking ini untuk menentukan kelayakan calon debitur. Jika nama pemohon masuk dalam daftar hitam Bank Indonesia, pengajuan kredit akan otomatis ditolak," sebutnya.

Dia pun menyarankan untuk melunasi sebanyak mungkin utang, baik utang konsumtif maupun produktif, sebelum mengambil KPR. "Jika masih menanggung utang lainnya, entah ke bank, teman, atau saudara, kemungkinan besar cash flow akan terganggu untuk mengangsur KPR. Umumnya cicilan KPR cukup besar, bisa mencapai sekitar 30 persen, atau bahkan lebih besar, dari penghasilan bulanan," urainya. 

Kedua, Katarina menekankan pentingnya menentukan rumah yang sanggup dibeli. "Langkah ini sangat penting. Jangan sampai menjadi house poor, menghabiskan sebagian besar porsi penghasilan Anda untuk pembelian rumah yang berimbas pada kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup lainnya," tegasnya. 

Rumah pertama yang akan dibeli dan ditempati, menurut dia, sebaiknya tidak dianggap sebagai instrumen investasi. "Kalau tujuan utama membeli rumah karena membutuhkan tempat tinggal, bukan untuk investasi. Pilih rumah yang sanggup dibeli," terangnya.

Untuk menghindari house poor, dia menyarankan agar cicilan KPR sebaiknya dibatasi maksimal 30 persen dari penghasilan bulanan. "Jadi, jika penghasilan bersih Rp 10 juta/bulan, cari rumah dengan cicilan maksimal Rp 3 juta/bulan," paparnya.

Ketiga, yakni terkait mempersiapkan down payment (DP) atau uang muka. "Untuk membeli rumah pertama dengan menggunakan KPR, dibutuhkan uang muka minimal 20 persen dari harga rumah. Semakin besar DP yang disetorkan di awal, akan semakin ringan beban cicilan bulanan," urainya.

Sehingga, menurutnya penting untuk menentukan jumlah yang harus dikumpulkan. Termasuk menentukan waktu dan menyisihkan uang untuk membayar DP. "Dengan memiliki target yang jelas, akan lebih termotivasi dan disiplin mengumpulkan dana. Serta tahu persis jumlah yang masih harus dikumpulkan. Idealnya, DP dikumpulkan dalam periode satu atau dua tahun. Jika lebih dari itu, harga rumah akan semakin tinggi dan mungkin tidak lagi mampu untuk dibeli," terangnya.

Dalam menyiapkan DP, alokasikan minimal 30 persen dari penghasilan bulanan. "Ini sekaligus menjadi sarana latihan ketikan nanti mencicil KPR. Selain mengandalkan penghasilan bulanan, juga sebaiknya memanfaatkan THR dan bonus yang diterima untuk menyiapkan dana DP," pungkasnya. 


End of content

No more pages to load