Harga emas yang tinggi menjadi salah satu pemicu inflasi di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Harga emas yang tinggi menjadi salah satu pemicu inflasi di Kota Malang. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Inflasi Kota Malang secara year on year (yoy) pada 2019 ini hingga Agustus baru mencapai angka 2,51 persen. Artinya, masih berada di bawah target inflasi tahunan 3,5 +/- 1 persen. Meski demikian, Bank Indonesia (BI) Malang masih optimis angka tersebut masih akan terkejar hingga akhir tahun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Malang, inflasi year on year (yoy) yang terjadi Agustus 2019 ini menjadi yang terendah selama delapan tahun terakhir. Yang tertinggi tercatat pada Agustus 2012 ke 2013 di angka 9,35 persen, lalu Agustus 2014 ke 2015 sebesar 7,05 persen. Sedangkan pada Agustus 2016 ke 2017 mencapai 3,92 persen dan 2017 ke 2018 di angka 2,79 persen. 

Sementara secara kumulatif, inflasi kalender atau akumulasi dari tingkat inflasi Januari hingga Agustus tercatat di angka 1,49 persen. Secara month to month (mtm), inflasi Kota Malang turun 0,01 poin pada Agustus lalu dibanding Juli 2019 yang ada di angka 0,20 persen. 

Padahal, rendahnya inflasi bisa menjadi indikasi lesunya perekonomian terutama di kalangan pengusaha akibat rendahnya tingkat konsumsi masyarakat. 

Meski demikian, BI masih optimis perekonomian akan menggeliat di akhir 2019 ini. Kepala Perwakilan (KPw) BI Malang Azka Subhan Aminurridho mengatakan, angka yoy yang tercatat masih di taraf aman. "Inflasi Kota Malang pada bulan Agustus 2019 masih relatif terjaga," tegasnya. 

"Bila dibandingkan dengan inflasi pada periode yang sama selama beberapa tahun sebelumnya. Inflasi Agustus 2019 ini tercatat sebagai inflasi terendah kedua, setelah Agustus 2018," lanjutnya. Menurut Azka, dilihat dari andil komoditas konsumsi masyarakat, inflasi yang terjadi kali ini lebih disebabkan oleh kenaikan harga dari komoditas non pangan.

Dia mencontohkan soal kenaikan harga emas perhiasan sebagai respons terhadap naiknya harga emas dunia. "Seiring dengan ketidakpastian kondisi ekonomi global, sehingga emas masih dianggap sebagai safe haven," ujarnya.

Inflasi Kota Malang Agustus 2019 sebesar 0,19 persen itu lebih tinggi dari inflasi Provinsi Jawa Timur dan nasional yang mencapai angka 0,12 persen. Tetapi, dibandingkan kota-kota lain di Jawa Timur, masih lebih rendah bila dibandingkan Probolinggo yang mencapai 0,27 persen dan Jember yang mencapai 0,33 persen.

Azka menegaskan bahwa pihaknya masih optimistis terhadap target inflasi. "Secara tahunan, inflasi Kota Malang tercatat sebesar 2,51 persen (yoy) yang mengindikasikan bahwa inflasi masih berada pada kisaran target inflasi 2019 yaitu 3,5 +/- 1 persen," pungkasnya.