Ilustrasi ibu hamil (Foto : istimewa)

Ilustrasi ibu hamil (Foto : istimewa)



Risiko kematian ibu memang menjadi hal krusial dalam kesehatan. Bahkan! untuk Kota Malang, angka kematian ibu (AKI) digencarkan untuk mencapai pemurunan hingga zero.

Beragam upaya juga telah dilakukan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang dalam menurunkan angka tersebut. Mulai dari quick wins pelayanan darah dan juga melalui Program Perencanaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) upaya AKI dan Angka Kematian Bayi (AKB).

Namun, ada gejala lain yang bisa menjadi risiko membahayakan bagi ibu hamil. Yakni preeklamsia, gangguan kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi dan kandungan protein yang tinggi dalam urine.

Preeklamsia biasanya akan muncul pada usia kandungan lebih dari 20 minggu. Kondisi ini juga dapat membahayakan organ-organ tubuh lainnya, seperti ginjal dan hati. Nah, jika tidak diobati, preeklamsia akan menjadi eklamsia. Yakni, suatu kondisi preeklamsia yang disertai kejang.

Eklamsia dapat berakibat fatal bagi ibu dan janin, bahkan dapat menyebabkan kematian. Karena itu, Dinkes Kota Malang selalu menganjurkan kepada setiap ibu hamil untuk rutin melakukan pemeriksaan ANC (atenatal care) k1-k4 ibu hamil.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang Supranoto mengatakan, meski angka kematian ibu di Kota Malang terbilang rendah, bukan berarti upaya untuk menekan angka ke zero tidak dilakukan. Antara lain memberikan pembinaan kepada petugas kesehatan di setiap rumah sakit dan puskesmas hingga sosialisasi kepada ibu hamil. 

"Di kami (Kota Malang) tingkat kematian ibu sangat rendah. Tapi dalam upaya untuk menekan angka tersebut, kami rutin melakukan pembinaan di seluruh rumah sakit dan puskesmas. Membina petugas kesehatan, mulai dari bidannya, dokternya, dan yang lainnya. Kemudian kami juga rutin memberikan sosialisasi terhadap ibu hamil," ujarnya.

Sedangkan anjuran pemeriksaan k1-k4 yang dimaksud yaitu setidaknya ibu hamil rutin melakukan pemeriksaan paling sedikit empat kali masa kehamilan. Rinciannya, minimal 1 kali pada trimester I (K1), usia kehamilan 1-12minggu. Lalu, minimal 1 kali pada trimester II (K2), usia kehamilan 13-24 minggu. Kemudian minimal 2 kali pada trimester III, (K3-K4), usia kehamilan > 24 minggu.

Dengan melakukan pemeriksaan rutin tersebut, maka identifikasi kehamilan berisiko tinggi dapat dilanjutkan dengan perawatan khusus. Sehingga pelayanan antinatal yang berkualitas dan dilakukan sedini mungkin secara teratur akan membantu pengurangan risiko terhadap anemia atau kekurangan darah bagi ibu hamil.

"Hal ini juga kami anjurkan agar ibu hamil merawat bayinya dengan pemeriksaan K1-K4. Kemudian juga diiringi pemberian makanan yang cukup untuk penambah darah agar risiko tekanan darah tinggi dan anemia tidak terjadi," pungkasnya.


End of content

No more pages to load