Tersangka Jumi’ati (kiri, rambut dikucir) saat menjalani penyidikan di Mapolsek Singosari (Foto : Polsek Singosari for MalangTIMES)
Tersangka Jumi’ati (kiri, rambut dikucir) saat menjalani penyidikan di Mapolsek Singosari (Foto : Polsek Singosari for MalangTIMES)

Setelah menjalani penyidikan intensif di Kantor Polsek Singosari. Jumi’ati warga Jalan Kertarejasa, Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari ini, akhirnya mengaku jika dirinya terpaksa melakukan aksi penipuan dan pencurian lantaran kepepet kebutuhan ekonomi.

”Berdasarkan keterangannya, suami tersangka diketahui sedang bekerja di Malaysia. Selama bekerja di luar negeri tersebut, tersangka jarang diberikan nafkah oleh suaminya,” kata Kanit Reskrim Polsek Singosari, Iptu Supriyono, Senin (2/9/2019).

Seperti yang sudah diberitakan, wanita 37 tahun itu diringkus polisi lantaran terbukti melakukan pencurian dan penipuan terhadap korbannya yang diketahui bernama Demi Mukartono warga Dusun Tambakrejo, Desa Tambakasri, Kecamatan Tajinan.

Sesaat sebelum melancarkan aksi kejahatannya. Tersangka sempat mengirim pesan melalui aplikasi WhatsApp, dan mengatakan jika korban tengah diguna-guna dan akan disantet.

Mendapatkan kabar fiktif tersebut, Demi Mukartono yang merasa ketakutan akhirnya menemui tersangka di kediamannya. Setibanya di rumah pelaku yang ada di Kecamatan Singosari, Jumi’ati langsung menyuruh korban untuk menjalani ritual.

Dalam ritual tersebut, korban disuruh untuk memasukkan dompet beserta isinya ke dalam kantong plastik. Setelah itu plastik yang berisi uang dan beberapa kartu ATM itu, ditaburi bunga oleh tersangka.

Usai menjalani ritual, korban dilarang untuk membuka kantong plastik tersebut. Mendapat mandat dari tersangka, Demi Mukartono akhirnya memasukkan kantong plastik yang sudah dijampi-jampi ke dalam jok sepeda motor yang dikendarainya saat berkunjung ke rumah tersangka.

Beberapa jam kemudian, Jumi’ati meminjam kendaraan milik korban dengan dalih ada keperluan mendadak. Saat itulah, ibu dua orang anak ini langsung menguras seluruh isi ATM milik korban. Akibat insiden penipuan dan pencurian tersebut, kerugian yang dialami korban mencapai lebih dari Rp 52 juta.

”Uang hasil curian sempat digunakan tersangka untuk membayar rumah kontrakan senilai Rp 5 juta dan membayar hutang senilai Rp 15 juta. Sedangkan sisa dari uang hasil pencurian, disimpan di ATM tersangka guna memenuhi kebutuhan sehari-hari,” terang Supriyono.

Akibat perbuatannya tersebut, Jumi’ati dijebloskan ke dalam penjara karena terbukti melanggar pasal 30 Undang-undang ITE nomor 11 tahun 2008 dan pasal 378 KUHP, serta pasal 362 KUHP tentang penipuan dan pencurian yang dilakukan melalui perangkat elektronik.

”Kasusnya masih dalam tahap pengembangan, diduga kuat korban penipuan yang dilakukan tersangka lebih dari satu orang,” tutup Supriyono saat dikonfirmasi oleh wartawan MalangTIMES.com.