Aktivis antikorupsi audensi di Kejari Kabupaten Pasuruan

Aktivis antikorupsi audensi di Kejari Kabupaten Pasuruan



Sejumlah aktivis antikorupsi mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Kabupaten Pasuruan. Mereka mendesak agar penyidik Kejari mengusut tuntas dugaan tindak pidana korupsi di Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Pasuruan yang merugikan keuangan negara Rp 918 juta.

Kedatangan para aktivis ini karena beredar rumor adanya intervensi atas penanganan korupsi Dispora. Bahkan meski penyidik telah menetapkan seorang tersangka, kasus tersebut tidak akan menyentuh pada para pelaku lainnya.

“Kami minta agar dilakukan percepatan pengusutan kasus korupsi Dispora. Jangan sampai penanganan korupsi Dispora ini menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum yang sudah berjalan,” kata Ismail Makky, Ketua LSM Forum Masyarakat Timur (Format) Kabupaten Pasuruan.

Hal senada juga disampaikan Direktur Pusat Studi Advokasi dan Kebijakan (Pusaka) Pasuruan, Lujeng Sudarto. Menurutnya, terjadinya tindak pidana korupsi tidak hanya berdiri sendiri. Karena ada aktor intelektual yang membuat skenario serta mengatur aliran dana tersebut.

“Kami mendukung langkah penyidik untuk membuka kasus Dispora lebih transparan. Penyidik harus mengusut tuntas hingga pada otak pelaku korupsi Dispora,” tegas Lujeng Sudarto.

Dikatakan, setiap tindak pidana korupsi yang terjadi tidak hanya berdiri sendiri. Karena itu, penetapan tersangka LW bukanlah akhir dari pengusutan kasus korupsi.

“Aktor kasus korupsi Dispora harus segera diungkap. Aliran dana korupsi itu juga harus dibeberkan agar masyarakat tidak luntur kepercayaannya pada proses hukum yang berjalan,” tandasnya.

Sementara itu, Kasi Pidana Khusus (Pidsus) Kejari Kabupaten Pasuruan, Denny Saputra, menyatakan apresiasinya atas dukungan aktivis dalam pengusutan kasus korupsi Dispora. Saat ini pihaknya tengah menyelesaikan proses pemberkasan dan melimpahkan tersangka LW.

“Dalam waktu satu minggu berkas tersangka LW segera dilimpahkan. Proses hukum akan terus berlanjut tanpa ada tebang pilih dan intervensi dari pihak lain,” kata Denny Saputra.


End of content

No more pages to load