Plt Bupati Malang Sanusi berharap pengembangan wisata religi lebih dimaksimalkan lagi. (Ist)

Plt Bupati Malang Sanusi berharap pengembangan wisata religi lebih dimaksimalkan lagi. (Ist)



Kabupaten Malang tidak hanya memiliki wisata alam atau buatan saja, tapi juga memiliki potensi besar dalam wisata religi yang keberadaannya masih belum maksimal tergali dan terekspos.

Hanya beberapa wisata religi yang masih jadi ikon Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malang sampai saat ini. Antara lain wisata religi gunung Kawi di Wonosari. Padahal, cukup banyak wisata religi lain yang tersebar di wilayah Kabupaten Malang dengan banyaknya potensi yang belum terekspos lebih maksimal. Misalnya, Gereja Katolik Jawi Wetan (GKJW) di Desa Peniwen, Kecamatan Kromengan,  yang termasuk 41 desa Kristen yang ada di Jawa Timur. Juga  berbagai wisata religi lainnya di berbagai pelosok pedesaan yang memiliki jejak sejarah dan kisah yang sebenarnya layak dijual dalam konteks pariwisata.

Hal inilah yang membuat Plt Bupati Malang Sanusi berharap besar kepada masyarakat Kabupaten Malang yang memiliki potensi wisata religi untuk terus digali potensinya. "Pengembangan wisata religi yang selama ini lekat dengan keberadaan makam atau pasarean harus lebih dikembangkan hal lain pendukungnya. Jadi, tidak hanya sekadar rutinitas religinya yang ditonjolkan," ucap Sanusi menyikapi masih kalahnya wisata religi yang sebenarnya memiliki potensi besar menjadi ikon pariwisata lain di Kabupaten Malang.

Sanusi mencontohkan wisata religi Gunung Kawi, Wonosari, yang mampu menyuguhkan berbagai hal lain sebagai daya tarik pariwisata, selain keberadaan makam Eyang Djoego (Kyai Zakaria) dan Raden Mas Iman Soedjono.

"Gunung Kawi bisa jadi contoh pengembangan wisata religi. Bukan hanya ritualnya yang ditampilkan, tapi berbagai potensi yang ada di masyarakat digali dan dioptimalkan untuk mendukung wisata religi itu," ujarnya.

Atraksi atau pertunjukan adalah salah satu yang wajib dimiliki dalam dunia pariwisata. Lepas dari wisata apa pun. Atraksi akan menjadi daya tarik berkelanjutan bagi sektor pariwisata. Tak terkecuali wisata religi, seperti yang diperlihatkan di Gunung Kawi dengan berbagai agenda atraksi religi tahunan. Sebut saja kirab ritual 1 Suro yang menampilkan berbagai atraksi seni dan budaya masyarakat di wilayah Wonosari.

Sanusi juga menegaskan, dirinya percaya di seluruh wilayahnya yang memiliki wisata religi atau yang masih dalam tahap pengembangan juga memiliki beragam potensi atraksi yang bisa jadi daya tarik pariwisata. "Persoalannya bagaimana masyarakat bisa menggali potensi itu serta terus melakukan inovasi-inovasi kreatifnya. Bisa diambilkan dari akar warisan budaya masa lalu yang masih hidup ataupun kreasi baru yang bisa menjadi ikon juga nantinya bagi wilayah tersebut," urainya.

"Intinya bagaimana mengemas kegiatan yang bukan sekadar rutinitas religi, tapi di saat bersamaan juga bisa memiliki nilai jual kompetitif menarik wisatawan," tandasnya.

Jangka panjang dengan penggalian potensi, khususnya dalam bidang atraksi pariwisata, bisa memperkaya jumlah agenda budaya yang terpadu dan berkelanjutan di seluruh Kabupaten Malang. "Semangat masyarakat untuk mewujudkan itu jadi bagian tak terpisahkan. Tanpa itu tak mungkin bisa dicapai. Kebersamaan menggali potensi wilayah akan jadi alat menyejahterakan masyarakat di bidang pariwisata," tandas Sanusi.

Pariwisata berkelanjutan di era global saat ini, menjadi konsep yang juga tak bisa dilepaskan dalam wisata religi di Kabupaten Malang. Bukan hanya lingkungan dan ekonomi yang patut diperhatikan dalam pengembangan wisata religi. Tapi sosial budaya dan religi masyarakat setempat atas keberadaan berbagai bangunan, seperti makam, patut menjadi perhatian serius.

Konsep pariwisata berkelanjutan memiliki tujuan besar dalam pengembangan bertanggung jawab atas kondisi lingkungan, sosial budaya dan ekonomi yang dipastikan terjaga. Seluruh pelaku yang ada, baik wisatawan, pemangku kepentingan dan warga lokal terlibat secara aktif dan menjadi pelaku di dalamnya.

Hal ini pula yang ditegaskan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Malang Didik Budi Muljono. Dia  mengatakan, ada tiga indikator untuk mewujudkan pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Pertama, kata Didik, adalah indikator lingkungan yang terjaga di lokasi wisata religi itu sendiri. "Di mana dampak mass tourism tidak menjadi faktor yang abai lingkungan hidup. Apalagi daya dukung lingkungan hidup menjadi salah satu program strategis kita," urainya.

Indikator kedua adalah sosial budaya warga lokal yang juga wajib terjaga dalam kondisi mass tourism yang dimungkinkan akan mengikis kultur warga lokal. Kondisi ini bisa terjadi dengan kultur wisatawan yang tentunya berbeda dengan yang ada di sekitar wisata.

"Indikator ini bisa membuat wisatawan juga lebih bisa aktif berinteraksi dan mengenal warisan budaya warga lokal itu sendiri. Ini juga bisa jadi daya tarik dalam pariwisata di era saat ini," ujar Didik.

Sedangkan yang terakhir, masih urai Didik, adalah  ekonomi warga sekitar lokus wisata. Hal ini juga menjadi penting dalam konsep pembangunan pariwisata di Kabupaten Malang. "Jangan sampai wisatanya berkembang, tapi ekonomi warga sekitar tidak terdampak. Pariwisata wajib mendongrak ekonomi warga dan melahirkan potensi ekonomi khas desa," pungkas Didik.

 


End of content

No more pages to load