Plt Bupati Malang Sanusi saat berada di Jeep sambil melambaikan tangannya dalam acara Pesona Gondanglegi VIII (Humas Kab Malang)
Plt Bupati Malang Sanusi saat berada di Jeep sambil melambaikan tangannya dalam acara Pesona Gondanglegi VIII (Humas Kab Malang)

Delapan tahun sudah kirab atau karnaval pesona Gondanglegi Kabupaten Malang berlangsung.

Dari awal karnaval kampung dan tradisional seperti kebanyakan ditemui di berbagai pelosok pedesaan, pesona Gondanglegi terus bermetamorfosis. 

Menjadi semakin baik, terkelola dan memiliki konsep layak jual dalam konteks pariwisata.

Maka, tak heran pesona Gondanglegi pun menjadi agenda tahunan dalam kalender event Kabupaten Malang. 

Setiap pemimpin Kabupaten Malang pun setiap gelaran pesona Gondanglegi dipastikan hadir dan ikut dalam kirab tersebut. 

Tak terkecuali Plt Bupati Malang Sanusi, yang saat ini sebagai puncak pimpinan di Kabupaten Malang.

Sanusi pun, seperti pemimpin sebelumnya, selalu terpesona dengan gelaran Pesona Gondanglegi ini. 

Dalam sambutannya, Sanusi mengapresiasi pesona Gondanglegi yang setiap tahun semakin variatif, kreatif dan memiliki visi dan misi yang semakin terarah.

"Saya atas nama pemerintah kabupaten Malang mengapresiasi pesona Gondanglegi yang terus tumbuh dengan berbagai inovasi kreatif setiap tahunnya. Tidak menyerah pada keberhasilan masa lalu dan terus berjuang untuk ke arah yang lebih baik lagi," ungkap Sanusi, Minggu (01/09/2019).

Hal itulah, lanjut Sanusi, yang mengingatkannya kepada tokoh pejuang legenda kelahiran Bangil, Pasuruan bernama Sadiman atau lebih dikenal sebagai Sakera. 

Sosok pejuang yang berjuang melawan penjajahan Belanda pada awal abad ke-19. 

"Saya jadi ingat Sakera dengan perjuangan warga Gondanglegi untuk memberikan yang terbaik kepada Kabupaten Malang melalui Pesona Gondanglegi ini. Apalagi saat saya melihat kesenian Sakera yang ditampilkan di sini dan katanya selalu hadir di setiap acara," ujarnya.

Sanusi pun bercerita tentang Sakera yang merupakan golongan ningrat di era penjajahan Belanda. 

Tapi, tidak membuatnya menjadi budak penjajah, bahkan sebaliknya. 

Sakera menjadi pejuang anti penjajahan yang juga merupakan penganut Islam yang taat dan sholeh. 

Selain itu, walau masih golongan ningrat, Sakera juga seorang pekerja keras saat dirinya menjadi mandor tebu sebuah pabrik gula kancil Mas Bangil.

Kegigihan dan keberanian Sakera pun dimulai saat Belanda melalui para budaknya yang merupakan orang Jawa sendiri yaitu Carik Rembang, melakukan berbagai tindakan di luar kemanusiaan untuk mencaplok lahan-lahan warga untuk dijadikan lahan tebu Belanda.

"Keberanian tak kenal menyerah Sakera melawan penjajah untuk kebaikan masyarakat yang dibelanya itulah yang kini diwariskan di sini. Di saat Indonesia telah merdeka dengan usia ke-74 ini. Sikap pantang menyerah ini yang saya lihat di masyarakat Gondanglegi," ujarnya.

"Dan itu masih lestari sampai saat ini dengan adanya kesenian Sakera yang jadi ikon budaya khas Gondanglegi ini," lanjut Sanusi.

Salah satu desa di Gondanglegi yaitu Karangasem, lanjut politisi PKB ini, merupakan wilayah yang mengawali kesenian Sakera.

Tentunya dengan membawa semangat Sakera dari Bangil Pasuruan ini, Desa Karangasem menjadi penerus ketokohannya.

Di Karangasem ini, Sakera yang merupakan singkatan Satuan Keamanan Rakyat, telah ada terbilang lama. 

Dimana Sakera difungsikan dalam mengawal kegiatan pernikahan ketika membawa seserahan (barang-barang dari mempelai suami ke calon istrinya). 

Lambat laun Sakera ini pun terus dikembangkan secara kreatif menjadi sebuah kesenian dengan busana yang dikenakan khas seni ludrukan.

"Dan ini masih lestari saat ini diberbagai kegiatan, tak terkecuali di pesona Gondanglegi ini. Kesenian Sakera tetap terpelihara di antara berbagai kreativitas warga lain dalam menampilkan berbagai busana dan kesenian lainnya," ujar Sanusi.

Lewat kisah Sakera yang disampaikan, Sanusi berharap seluruh masyarakat Kabupaten Malang terus bangkit dan pantang menyerah dalam berbagai kondisi dan keterbatasan yang ada. 

Sifat dan sikap Sakera pun, masih relevan untuk dijadikan contoh di era saat ini.

"Teruslah untuk menggali potensi yang ada di wilayahnya masing-masing tanpa melupakan berbagai contoh baik yang diwariskan para pejuang kita dulu," pungkas Sanusi.