Petani Kopi Desa Taji saat memanen biji kopi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).
Petani Kopi Desa Taji saat memanen biji kopi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

Tulisan sebelumnya sempat membahas proses yang harus dilalui menuju kebun penghasil kopi terbaik di dunia yaitu Desa Taji.

Sederet perjalanan yang harus dilalui para petani kopi pun sudah sedikit disinggung. 

Terutama jalanan terjal dan curam yang harus dilalui saat merawat dan memanen Kopi Taji yang tentunya tak mudah. 

Kali ini, tulisan kami akan mengupas tentang sederet rahasia yang menjadikan Kopi Taji menjadi kopi andalan berkelas dunia.

Salah satu rahasia utama yang menjadikan Kopi Taji memiliki kenikmatan yang paripurna adalah tempat penanamannya. 

Di mana Kopi Taji telah ditanam di lereng Gunung Bromo dan berada diketinggian 1.200 mdpl.

Matang dan merah sempurna, contoh biji kopi yang dipanen petani kopi di Desa Taji (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

Kawasan yang dingin dan udara yang sejuk menjadi salah satu alasan kopi yang diproduksi di desa ini menjadi nikmat.

Namun tak berhenti di lokasi penanaman saja, cara merawat hingga proses memanen pun ternyata menjadi kunci penting yang menjadikan Kopi Taji menjadi kopi andalan nusantara. 

Tak boleh sembarangan, tempat penanaman kopi harus terus dijaga. Biji yang dipanen pun tak boleh asal, dan harus memenuhi beberapa standart.

Sertu Heri Purnomo, babinsa (bintara pembina desa) dari Koramil 0818/23 Jabung, sekaligus sosok berpengaruh yang mengembalikan semangat petani kopi di Desa Taji bercerita, potensi kopi di desa yang berada di lereng gunung itu sangat luar biasa. 

Namun sayangnya, saat datang mengabdi untuk pertama kalinya pada sekitar 2010 lalu, para petani tak memiliki gairah untuk menanam kopi.

Dia melihat, hutan yang lebat begitu saja dibabati dan dialihfungsikan sebagai lahan menanam sayur-sayuran. 

Sedangkan kopi mulai ditinggalkan lantaran dinilai tak memiliki nilai ekonomis. 

Melihat hutan yang gundul, saat itu yang terbesit dalam pikirannya adalah kondisi alam yang harus diselamatkan terlebih dulu.

"Mengubah mindset masyarakat tidak mudah, maka keinginan penghijauan harus dikemas dengan baik. Kopi potensinya di sini besar karena sedari dulu di sini memang penghasil kopi sebelum akhirnya diganti dengan sayuran. Setelah saya cari tahu, kopi dapat membantu menyeimbangkan ekosistem alam, maka saat itu saya ajak masyarakat menanam kopi, bukan penghijauan, tapi menunjukkan nilai ekonomis menanam kopi. Setelah sembilan tahun lamanya, sekarang sudah terasa," jelasnya pada MalangTIMES, Minggu (1/9/2019).

Sebagai sosok yang tak paham betul dengan kopi, Heri akhirnya saat itu memilih belajar tentang dunia perkopian. 

Selanjutnya ia menumbuhkan kembali semangat petani untuk menanam kopi.

Sederet trik untuk menghasilkan kopi yang berkualitas tinggi pun ia pelajari bersama dengan para petani. 

Hasilnya pun sekarang sudah dapat dirasakan. Kopi Taji sekarang banyak diburu dan menjadi yang terbaik.

Heri pun membeberkan beberapa rahasia yang menjadikan Kopi Taji menjadi andalan dan nikmat. 

Perbandingan biji kopi sehat (kiri) dan biji kopi yang terkena hama (kanan) yang tampak terdapat bercak hitam pada bagian dalam biji kopi (Pipit Anggraeni/MalangTIMES).

Selain ditanam di lereng Gunung Bromo dengan suhu yang mumpuni, ada banyak tips yang ia jalankan untuk menghasilkan kopi yang nikmat.

Diantaranya adalah rutin nelakukan perawatan dan pemupukan pada setiap pohon kopi. 

Alhasil, saat musim kemarau sekalipun, pohon kopi yang ditanam tetap memproduksi tunas dan berbunga. 

Sehingga, hasil biji kopi yang dipanen setiap tahun terus bertambah secara signifikan.

"Kondisi tanaman harus dijaga dan dirawat, pemberian nutrisi dan pupuk pada pohon sangatlah penting," imbuhnya.

Menurutnya, petani tak boleh melupakan hal sepele sekalipun saat menanam dan merawat pohon kopi. 

Karena untuk menghasilkan produk unggulan tentunya memang memerlukan waktu dan tidak berlangsung secara instant. 

Termasuk kopi produksi Desa Taji, yang hanya dipanen saat biji benar-benar merah sempurna.

(Foto contoh biji kopi merah sempurna yang siap dipanen)

Ketika dipaksakan untuk dipanen dalam kondisi biji kopi yang belumnmatang sempurna, menurutnya kualitas dan rasa kopi yang dihasilkan nantinya akan terpengaruh. 

Itu sebabnya, para petani selalu melakukan sortir pasca memanen biji-biji kopi. 

Dalam proses sortir itu, biji yang berwarna hijau atau tak berwarna merah sempurna akan dipisahkan.

Selanjutnya, kopi yang sudah dipisahkan antara yang baik dan belum matang akan dilakukan perambangan. Di mana biji kopi akan direndam ke dalam air. 

Selanjutnya, biji kopi yang mengambang akan diambil. 

Sedangkan biji kopi yang mengendap akan dikeringkan. 

Karena biji kopi yang mengendap menunukkan jika kopi tersebut baik.

"Setelah melalui proses perambangan, biji kopi dijemur selama 21 hari sampai satu bulan. Tujuannya adalah agar kadar air benar-benar habis," terangnya.

Usai dijemur, biji kopi dan kulit kopi akan dipisahkan. Kemudian dilanjutkan dengan roasting. 

Dia pun menyarankan agar pasca roasting, kopi tidak langsung disuguhkan. 

Namun terlebih dulu agar disimpan kurang lebih tiga hari. 

Karena karbon sisa pembakaran masih tersisa dalam biji kopi yang selesai diroasting.

"Setelah tiga hari baru bisa dijadikan bubuk dan disuguhkan atau diseduh," tambah Heri.

Proses untuk menjadikan sebuah kopi sebagai kopi berkualitas tinggi memanglah sangat tidak mudah. 

Kopi terbaik dunia yang kini juga dapat dinikmati di Terminal Kopi Malang lantai satu Pasar Terpadu Dinoyo itu telah melalui beberapa rangkaian proses. 

Mulai proses penanaman yang tentunya harus memperhatikan perawatan hingga rangkaian memanen kopi serta proses panjang saat menjemur kopi hingga dilakukan roasting.