Tersangka Jumi’ati saat diringkus polisi karena kasus penipuan dan pencurian melalui sarana elektronik (Foto:  Polsek Singosari for MalangTIMES)
Tersangka Jumi’ati saat diringkus polisi karena kasus penipuan dan pencurian melalui sarana elektronik (Foto: Polsek Singosari for MalangTIMES)

Jumi’ati warga Jalan Kertarejasa, Kelurahan Candirenggo, Kecamatan Singosari ini, hanya bisa pasrah saat digelandang petugas kepolisian ke kantor Mapolsek Singosari, Sabtu (31/8/2019). Wanita 37 tahun itu diringkus petugas karena terbukti melakukan aksi penipuan dan pencurian.

”Guna memuluskan aksi penipuan dan pencurian, tersangka Jumi’ati ini meyakinkan korbannya melalui sarana chatting lewat aplikasi WhatsApp,” kata Kanit Reskrim Polsek Singosari, Iptu Supriyono, Minggu (1/9/2019).

Diperoleh keterangan, aksi kejahatan yang dilakukan Jumi’ati ini terjadi pada hari Senin (24/6/2019) lalu. Ketika itu, pelaku menghubungi seorang temannya yang diketahui bernama Demi Mukartono warga Dusun Tambakrejo, Desa Tambakasri, Kecamatan Tajinan, melalui aplikasi chatting WhatsApp. 

"Saat itu pelaku mengakatakan jika korban telah diguna-guna dan akan disantet oleh seseorang,” ungkap Supriyono.

Mendapat informasi jika dirinya dalam kepungan ilmu hitam, korban akhirnya mendatangi kediaman pelaku. Ketika bertamu itulah, Demi diajak oleh Jumi’ati untuk menyelenggarakan ritual guna menghindari balak.

”Salah satu persyaratan ritual yang diminta pelaku adalah mengeluarkan semua uang dan seluruh isi dompet termasuk kartu ATM milik korban. Setelah itu dompet beserta isinya dimasukkan kedalam plastik,” sambung Supriyono.

Plastik berisi uang dan beberapa kartu ATM tersebut, lanjut Supriyono, kemudian ditaburi bunga oleh tersangka. Usai ritual berakhir, korban tidak diperkenankan oleh pelaku untuk membuka kantong plastik tersebut. Mendapat mandat jika plastik hanya boleh dibuka oleh pelaku, Demi akhirnya memasukkannya kedalam jok sepeda motor yang dikendarai korban untuk bertamu kerumah pelaku.

Beberapa jam kemudian, Jumi’ati meminjam sepeda motor korban dengan dalih ada keperluan mendadak. Tanpa rasa curiga, Demi langsung memberikan kunci kendaraan kepada Jumi’ati.

Setelah berhasil membawa kendaraan korbannya, tersangka langsung pergi ke mesin ATM yang ada di wilayah Kecamatan Singosari untuk menguras habis uang milik pria 53 tahun tersebut.

Belakangan diketahui, uang yang ada di ATM itu diambil pelaku melalui empat lokasi ATM yang berbeda. Yakni di mesin ATM Bank BCA, Bank Mandiri, Bank BRI dan Bank BNI yang berlokasi di Wilayah Kecamatan Singosari.

”Sebelum menguras uang milik korban, pelaku menyuruh korban untuk menulis pin ATM ke pesan SMS. Pin tersebut kemudian dihafalkan oleh tersangka guna menguras uang. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami kerugian mencapai Rp 52 juta lebih,” terang Supriyono.

Usai menguras uang korban, Demi disuruh pulang ke rumahnya. Beberapa hari kemudian korban yang hendak mengambil uang di dalam kartu ATM, mendapati jika saldo puluhan juta miliknya sudah tidak tersisa.

Tanpa berfikir panjang, pria yang juga berdomisili di Perumahan Landungsari Regency, Kecamatan Dau ini, langsung mendatangi rumah Jumi’ati yang berlokasi di wilayah Kecamatan Singosari.

Namun setibanya di tempat tinggal tersangka di wilayah Kecamatan Singosari yang juga pernah dijadikan lokasi ritual tolak balak tersebut. Sudah dalam keadaan kosong tak berpenghuni. Setelah sempat mencari keberadaan Jumi’ati selama beberapa bulan namun tidak kunjung ditemukan. Korban akhirnya memilih melaporkan kejadian yang dialaminya ke pihak kepolisian.

Mendapat laporan, anggota Unit Reskrim Polsek Singosari langsung diterjunkan ke lapangan guna melakukan penyelidikan. Hingga akhirnya, pada Sabtu (31/8/2019) sore, polisi mendapat informasi jika Jumi’ati sedang bersembunyi di wilayah Kecamatan Lawang.

Tanpa menunggu lama, petugas langsung mengamankan tersangka. Dari tangan ibu rumah tangga tersebut, polisi menyita berbagai barang bukti hasil kejahatan. Diantaranya satu kartu ATM BCA yang digunakan untuk menyimpan uang hasil penipuan dan pencurian, serta handphone yang dijadikan sarana juga turut disita polisi.

”Kasusnya masih dalam tahap penyidikan, akibat perbuatannya tersangka kami jerat dengan pasal 30 Undang-undang ITE nomor 11 tahun 2008 dan pasal 378 KUHP, serta pasal 362 KUHP tentang penipuan dan pencurian yang dilakukan melalui sarana perangkat elektronik,” tutup Supriyono.