Suasana kampus UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Suasana kampus UIN Malang. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)



Mahasiswa-mahasiswa yang berkarakter dan berakhlak yang baik serta spiritualitas yang tinggi dihasilkan oleh Ma'had Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang).

Hal ini tentu tak lepas dari bimbingan para ustaz dan juga musyrif di ma'had tersebut. 

Ya, selain dididik oleh ustaz dan ustazah, mahasantri UIN Malang juga dibimbing oleh para musyrif dan musyrifah.

Musyrif atau musyrifah singkatnya adalah suatu gelar atau panggilan bagi kakak-kakak senior yang telah lulus dalam serangkaian tes untuk mengabdi dan membimbing mahasiswa baru yang masuk ke ma'had.

Tak sembarang mahasiswa bisa menjadi musyrif dan musyrifah. Di UIN Malang, untuk menjadi musyrif dan musyrifah harus melalui seleksi yang ketat.

"Tidak semua bisa jadi musyrif. Mereka diseleksi dari akademiknya, keaktifan ketika jadi santri, kemampuan bahasa Arab dan bahasa Inggrisnya, kemampuan Alqurannya, kemampuan kitabnya," beber Direktur Ma'had Sunan Ampel Al Aly UIN Malang, Dr H Akhmad Muzakki MA kepada MalangTIMES.

Para musyrif ini adalah kakak tingkat dari semester 3 ke atas. Satu musyrif bertanggung jawab pada 20 mahasiswa baru.

"Jadi musyrif musyrifah ini memang pilihan santri pilihan," tandas Muzakki.

Tugas musyrif musyrifah ini memantau kegiatan para mahasantri.

"Mulai dari shalatnya diabsen, kegiatan khotmil Quran nya, kegiatan taklimnya, ubudiyah, terus Unit Penunjang Kreativitas Mahasantri (UPKM)-nya, selalu itu dikontrol oleh kakak kelas yang itu musyrif," bebernya. 

Nah, UIN Malang pun begitu menghargai para musyrif musyrifah ini. Dikatakan Muzakki, mereka berhak mendapatkan kontribusi dari universitas.

"Dalam bentuk terserah apa nanti. Mungkin UKT diringankan atau ada bantuan lain. Karena ini kontribusi nyata pada adik kelas," pungkas nya.


End of content

No more pages to load