Kandang peternakan sapi perah di BBPP Batu.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)
Kandang peternakan sapi perah di BBPP Batu.(Foto : Aunur Rofiq/BlitarTIMES)

Faktanya, mengkonsumsi susu memiliki banyak sekali manfaat untuk tubuh, baik untuk anak-anak maupun orang dewasa. Namun demikian nyatanya konsumsi susu benar-benar harus diselamatkan untuk menciptakan masyarakat yang tangguh, cerdas dan sehat.

Informasi yang dihimpun, dari data Kementerian Pertanian tahun 2016 yang menyebutkan Indonesia mengonsumsi hanya 11.09 liter susu per kapita per tahunnya, sementara bila dibandingkan dengan Brunei Darussalam yang mencapai 129.1 liter, Malaysia dengan 50.9 liter, Singapura sebanyak 46.1 liter, dan bahkan masih jauh lebih sedikit dibandingkan dari Vietnam yang berada di angka 20.1 liter susu per kapita per tahun.

Melalui kreativitas dan program pemberdayaan yang digagas pemerintahan, konsumsi susu di Indonesia ternyata mengalami peningkatan dalam beberapa kurun waktu terakhir. Pemerintah mendorong peternak dan kalangan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) untuk membuat produk olahan susu seperti yogurt, keju, stick susu, permen susu hingga es krim.

Mengolah susu menjadi produk olahan seperti stick susu dan permen susu juga dapat menyelamatkan susu layak konsumsi yang ditolak oleh koperasi. Data dari Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Kota Batu, seringkali koperasi menolak susu milik peternak yang pecah, padahal susu tersebut pecah bukan karena bakteri.

“Susu pecah itu banyak faktor. Bisa pecah karena sapi stres, pecah setelah dimasak juga bisa, pecah karena proses akhir laktasi juga bisa. Kalau pecah karena bakteri, itu tidak boleh diolah menjadi produk olahan, susu pecah karena bakteri atau susu busuk harus dibuang,” ungkap Widyaiswara BBPP Batu Bidang Pengolahan Susu, Widi Roseli kepada BLITARTIMES di sela Bimtek pengolah susu dan daging yang digelar Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Blitar di BBPP Batu, Kamis (29/8/2019).

Dikatakan nya, mengolah susu menjadi produk olahan seperti stick susu dan permen susu bisa menjadi alternatif bagi peternak untuk memanfaatkan susu yang ditolak oleh koperasi agar tetap berdaya guna dan memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Peternak bekerja siang malam, dia mengeluarkan biaya dan tiba-tiba susunya pecah ditolak oleh koperasi. Susunya rusak dan diapun memalsu, kalau tidak memalsu peternak bisa marah dan susunya disiramkan ke petugas koperasi. Kalau sudah bicara memalsukan membahayakan bagi kesehatan konsumen. Nah, bila diolah menjadi produk yang bisa menghasilkan uang, maka peternak tidak akan memiliki pikiran negatif untuk memalsu. Peternak akan berpikir, meski susunya ditolak masih bisa diolah menjadi produk,” paparnya.

Lebih dalam dia menyampaikan, selain proses produksinya simpel dan mudah, prospek pasar untuk stick susu dan permen susu ini sangat bagus. Harga stick susu bisa mencapai Rp 60 ribu per kilo. Sementara permen susu, 1 liter susu bisa dihasilkan 3,5 ons permen susu.

“Prospek pasarnya sangat bagus, harganya juga sangat bagus Rp 60 ribu per kilo. Cuma memang untuk permen susu proses pembuatannya agak lama, tapi jelas pangsa pasarnya sangat prospektif,” tandas nya.

Sementara itu Kabid Budidaya dan Pengembangan Peternakan Dinas Peternakan dan Perikanan Pemkab Blitar, Indriawan Wicaksono, menegaskan pihaknya saat ini benar-benar serius mendorong kemajuan budidaya pengolahan produk olahan dari susu. 

Upaya serius itu dibuktikan dengan melaksanakan program peningkatan SDM pengolahan susu dan daging bekerjasama dengan Balai Besar Pelatihan Peternakan (BBPP) Batu, Kota Batu. Program yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) salah satunya dilaksanakan pada tanggal 28 dan 29 Agustus 2019.

Indriawan menambahkan, potensi peternakan di Kabupaten Blitar sangat luar biasa. Untuk susu, per harinya Kabupaten Blitar memproduksi 110 ton susu.

“Potensi ini, termasuk susu kedepan akan terus kita kembangkan. Dalam mengembangkan kita nanti tentunya akan bersinergi dengan OPD terkait lainnya untuk melakukan pembinaan agar potensi ini benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh peternak dan pelaku UMKM. Bila semua bergerak pasti hasilnya akan baik,” pungkas nya.(kmf)