Seni mural di Desa Beji/Foto Muklas

Seni mural di Desa Beji/Foto Muklas



Ada saja cara memeriahkan kemerdekaan ke 74 tahun Republik Indonesia. Salah satunya yaitu dengan menggelar kompetisi mural. Hal itu seperti yang dilakukan pihak panitia kemerdekaan Karang Taruna Tri Raharjo di Desa Beji, Kecamatan Junrejo.

Pihak panitia kawula muda mengangkat tema 'Kampung Wayang dan Kampung Sapi'. Tujuannya yakni untuk melombakan seni gambar pada dinding dan tembok milik warga di RT 03 RW 04.

Pilihan topik tersebut tentu punya kronologi tersendiri. Sebab, selain warganya hobi memelihara sapi dan memerah susu sapi, juga melestarikan kesenian wayang sebagai budaya Indonesia. Agar generasi paham dan mau menggeliatkan aset budaya nusantara.

Tarian lukis dan menggambar di media tembok dan dinding warga ini bisa membakar semangat generasi untuk terus berkarya dan berkreasi, mengisi kemerdekaan dengan hal positif. Serta menuangkan ide dan pikiran sebagai wujud kreatif tanpa batas.

Sehingga bakat dan skill bisa tersalurkan dengan bagus. Selain itu, karya dengan media cat tembok dinikmati semua warga dan wisatawan luas. Dan seni gambar yang ditemukan pertama di Gua Lascaux, wilayah Selatan Prancis ini membuat warga dan masyarakat sekitar turut serta meramaikan bulan kemerdekaan.

Peserta mural tidak hanya dari kalangan desa setempat. Mereka datang dari Gresik, Surabaya, Nganjuk, Bandung, dan Magelang. Kemudian, ada yang datang dari Sulawesi dan Bali. Mereka beradu bakat dan karya apik.

Salah satu hasil gambar yang ditampilkan adalah sosok Batara Guru. Menurut mitologi Jawa, ia adalah dewa yang merajai ketiga dunia. Yaitu: Mayapada (dunia para dewa, surga), Madyapada (dunia manusia), dan Arcapada (dunia bawah atau neraka).

Seniman lain ada yang menggambar tokoh Arjuna sambil membawa panji merah putih. Sebagai jelmaan seorang kesatria pembela yang lemah dan mengobarkan samangat membela yang benar dalam wiracarita asal India.

Juga ada penggambaran sosok Srikandi. Ia sebagai penjelmaan wujud pahlawan perempuan yang welas asih, tangguh, ramah dan penyayang. Serta wujud dewi kesuburan dan kemakmuran.

"Kami menonjolkan seni yang punya nilai tinggi dan sarat makna edukasi. Karena Srikandi sebagai sosok pejuang perempuan. Perwujudan kesatria perempuan yang berani. Ia juga ikut serta dalam Perang Baratayuda. Dan wujud dewi kesejahteraan serta memperjuangkan kalangan terpinggirkan juga bela kebenaran," beber Choirul Maarif salah satu peserta lomba mural bersama timnya, Heri Setiawan dan Ikhwan Sa'roni.

Masih di tempat yang sama, Achmad Firdaus Ketua Pelaksana Kampung Wisata menyatakan, keinginan untuk memberdayakan dan menggerakkan generasi muda untuk maju dan tampil terus dilakukan.

Upaya tersebut untuk mengenalkan desa dan Kampung Wisata lebih luas kepada masyarakat umum dan wisatawan luar. Sebab, di desanya ada kampung wisata sapi. Selain itu untuk mensolidkan pemuda-pemudi agar lebih akrab dan lebih kreatif lagi.

"Konsep awal untuk mengangkat Kampung Wisata. Juga generasi mendatang lebih kreatif dan inovatif," ujar Achmad Firdaus kepada BatuTIMES. 

Sementara itu, Dewanti Rumpoko Wali Kota Batu pernah menyatakan, bahwa Kota Apel sudah mulai bagus. Dan dilirik banyak wisatawan. Untuk itu, secara fisik pembangunan desa sudah bagus dan tertata rapi.

Maka, pihaknya juga meminta peran desa terutama warga dan karang taruna untuk bergerak membuat hal positif. Berkreasi melalui terobosan yang bisa memikat wisatawan luar. Agar mereka datang lagi dan mau menginap di kota yang memiliki tiga kecamatan ini.

"Buat wisatawan seramah mungkin. Buat hal yang bisa mendatangkan keunggulan dan potensi tiap-tiap desa. Agar bisa mandiri. Sebab, slogan Pemkot Batu: Desa Berdaya, Kota Berjaya," kata wali kota perempuan pertama di Kota Apel ini.

Perlu diketahui di Kampung Wisata juga berencana mengadakan pasar wisata, menggelar sanggar tari, dan menjual wayang serta ditutup dengan panggung ceria.


End of content

No more pages to load