Bedah buku 'Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Hayam Wuruk Raja Majapahit di Blitar'.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
Bedah buku 'Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Hayam Wuruk Raja Majapahit di Blitar'.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Dalam upaya menjadikan Candi Sawentar sebagai destinasi wisata di tingkat regional dan nasional bahkan Internasional, Lembaga Adat Desa Sawentar “Adi Budaya” menggandeng Universitas Islam Balitar (Unisba) Blitar menggelar acara bedah buku 'Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Hayam Wuruk Raja Majapahit di Blitar', Minggu (25/08/2019) di Gedung Serbaguna Kantor Desa Sawentar.

Diskusi yang berlangsung pagi hingga siang itu dihadiri sekitar 50 pegiat budaya, lembaga adat dan juga pemuda setempat.

Dengan dipandu oleh Kaprodi Sosiologi Unisba Blitar, Novi Catur Muspito, S.Pd, M.Si sebagai moderator, buku "Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Hayam Wuruk Raja Majapahit di Blitar" karangan Drs. Husnu Mufid, M.Pdi (Penerbit Menara Madinah Surabaya) dan
Ki Jontor Siswanto (Penulis) tersebut dikaji secara ilmiah oleh Drs. Hariyadi (Penggiat Budaya Tulungagung) bersama pembanding dari Unisba Blitar, yakni Drs. Hery Basuki, MM (Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unisba Blitar), Eko Adi Susilo, SE.MM (Kaprodi Ilmu Administrasi Negara Unisba Blitar) dan juga Dosen Sosiologi Fandu Dyangga ,M.Pd.

Dekan Fisip Unisba Blitar, Hery Basuki sangat mengapresiasi buku ‘Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Hayam Wuruk Raja Majapahit di Blitar' yang ditulis Oleh Ki Jontor dan Drs. Husnu Mufid. M.Pdi. 

Diharapkan buku ini bisa menjadi referensi sejarah budaya Desa Sawentar serta mengembangkan wisatanya.

"Tentunya selain buku ini berisi kajian tentang sejarah nantinya diharapkan bisa menjadi sarana promosi abadi dan pengembangan wisata budaya bagi Desa Sawentar," ungkapnya.

Menurutnya, kehadiran sosok penulis buku tentang sejarah dan budaya ini merupakan gebrakan baru untuk kemajuan di bidang kajian sosial budaya di masyarakat. Utamanya sebagai referensi untuk pemajuan potensi Desa Sawentar.

"Nantinya dapat menjaga keberadaan peninggalan situs-situs yang ada di Blitar, khususnya Candi Lwang Wentar. Mengingat selama ini banyak kerusakan situs karena tidak adanya kesadaran di masyarakat," sambung Hery.

Sementara itu, Ki Jontor selaku penulis buku ‘Candi Lwang Wentar dan Perjalanan Hayam Wuruk Raja Majapahit di Blitar' menjelaskan, buku ini berisi kajian sejarah tentang asal usul nama candi Lwang Wentar, fungsi dan pemanfaatan bangunan itu sendiri. 

Menurutnya, nama candi Lwang Wentar banyak disebut dalam kitab Negarakertagama, candi ini merupakan salah satu tempat yang pernah dikunjungi oleh raja Hayam Wuruk.

"Dalam kitab Negarakertagama disebutkan bahwa pada tahun saka Tritanuwari 1283 (1361 masehi) bulan Wesaka (April-Mei) Baginda raja Hayam Wuruk nyekar ke Palah dengan pengiringnya. Berlarut-larut setiap yang indah dikunjunginya untuk menghibur hari di Lwang Wentar, Manguri Blitar dan Jimbe. Kalimat tersebut menunjukkan bahwa raja Hayam Wuruk pernah berziarah dan beristirahat di wilayah Sawentar," terangnya.

Selain menjadi salah satu saksi sejarah, situs budaya ini juga menghidupkan potensi budaya masyarakat sekitar untuk pemanfaatan sebagai wisata budaya. 

Mulai dari ritual grebeg Lwang Wentar yang ditunggu tunggu tiap tahun, ritual adat wayang ruwat wentar dan juga pemanfaatan batik Sawentar yang diambil dari relief candi tersebut.

"Dari buku ini nantinya diharapkan dapat menjaga keberadaan peninggalan atau situs budaya. Semoga upaya melalui penerbitan buku ini bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya menjaga warisan budaya dan situs-situs budaya di Blitar," tutup Ki Jontor.(*)