Ilustrasi sektor pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 (Ist)

Ilustrasi sektor pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 (Ist)



Setelah membocorkan komposisi kabinet pemerintahannya di jilid II, yakni 55 persen untuk kalangan profesional dan 45 persen untuk partai politik (parpol). Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali melemparkan bocoran lain kepada publik. 

Khususnya untuk Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang nantinya akan mengawal visi misinya lima tahun ke depan.
Salah satu kriteria yang disampaikan Jokowi untuk Mendikbud adalah mampu melaksanakan kurikulum yang menggunakan teknologi.

"Harus mengerti mengenai era disrupsi. Pentingnya AI, artificial intelligence, serta bagaimana melaksanakan kurikulum dengan menggunakan teknologi. Itu yang jadi salah satu kriteria Mendikbud ke depan," kata Jokowi.

Kriteria tersebut menjadi syarat mutlak bagi Mendikbud ke depannya. Pasalnya, masih menurut Jokowi, untuk memberikan pemerataan kualitas pendidikan dari Sabang sampai Merauke sehingga tidak ada Jawa Sentris, diperlukan keahlian seorang menteri yang menguasai persoalan teknologi di era disrupsi 4.0 saat ini.

"Jadi Mendikbud mempunyai tantangan untuk menyamakan kualitas pendidikan di seluruh Indonesia yang terdiri dari 17 ribu pulau dan 514 kabupaten/kota. Ini bisa terwujud apabila kurikulum diterapkan menggunakan teknologi," ujar Jokowi yang juga menjelaskan dari jumlah pulau itu kualitas pendidikannya berbeda-beda levelnya satu sama lainnya.

Disrupsi yang menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah hal yang tercabut dari akarnya. Atau disederhanakan sebagai perubahan yang mendasar atau fundamental dalam kehidupan manusia saat ini. Dimana di era Revolusi Industri 4.0, cepatnya teknologi yang telah menjadi sumber disrupsi dan menyuguhkan era baru saat ini.

Era disrupsi juga tidak sekedar melanda sektor perekonomian atau perdagangan saja. Dimana, aktivitasnya yang dulu dilakukan di dunia nyata, kini semakin masif beralih ke dunia maya. Tapi juga melanda di sektor pendidikan. Perubahan besar ini yang perlu disikapi dengan berbagai kebijakan dari Mendikbud ke depannya.

Maka, menjadi wajar bila Jokowi menekankan kriteria terkait penguasaan teknologi dalam kurikulum pendidikan. Dimana, pelajar di era disrupsi saat ini bukan hanya diajari melalui kurikulum konvensional saja. Atau sekedar mempersiapkan siswanya untuk menjadi pekerja atau buruh dalam sebuah proses produksi. 

Pasalnya, di era teknologi saat ini lapangan kerja akan semakin berkurang. Bahkan, Chairul Tanjung, di tahun 2018 lalu telah menyampaikan, sekitar lima juta pekerjaan akan hilang otomasi dalam kurun waktu 2015-2020. Sebuah riset dari Deloitte dan Oxford University bahkan menggambarkan bahwa 850 ribu pekerjaan di sektor publik bisa digantikan oleh robot di era disrupsi teknologi ini.

Hal inilah yang membuat Jokowi pun memberikan kriteria terkait hal itu pada sektor pendidikan. "Karena tidak ada pilihan lain selain kita harus berubah," tegasnya.

Terkait waktu pelantikan kabinet barunya, Jokowi menyatakan, bisa terjadi para menteri akan dilantik sebelum dirinya dilantik menjadi presiden 2019-2024 di Oktober 2019 mendatang.

 


End of content

No more pages to load