Jenazah korban penganiayaan saat tiba di kamar mayat RSSA Malang untuk diotopsi guna kepentingan penyidikan. (Foto : Istimewa)

Jenazah korban penganiayaan saat tiba di kamar mayat RSSA Malang untuk diotopsi guna kepentingan penyidikan. (Foto : Istimewa)



Kisah tragis dialami Suwarso, warga Desa Sambigede, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang. Pria 62 tahun itu mengalami luka parah di bagian kepala usai menjadi korban penganiayaan. Meski sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia, Rabu (21/8/2019) malam.

”Usai dianiaya, korban yang mengalami luka parah di bagian kepala dan wajahnya sempat dilarikan ke RSUD Kanjuruhan. Namun sehari berselang, korban akhirnya dinyatakan meninggal dunia,” kata Kanit Reskrim Polsek Sumberpucung Ipda Zaenal Arifin, Kamis (22/8/2019).

Diperoleh keterangan, aksi penganiayaan yang dialami korban terjadi pada Selasa (20/8/2019) sore. Tepatnya sekitar pukul 15.00 WIB, Suwarso beserta istrinya,  Jumini, berniat pulang ke rumahnya usai berpergian. Setibanya di halaman rumah, keduanya sempat berpapasan dengan segerombolan orang yang sedang asyik menenggak minuman keras (miras).

Tidak berselang lama kemudian, Suwarso dipanggil oleh seorang yang sedang mabuk tersebut. Tanpa rasa curiga, kakek tersebut langsung menghampiri.

Ketika Suwarso mendekat, beberapa orang yang semula sedang asyik pesta miras memilih untuk pergi. Namun seorang pria bernama Nuriman tetap duduk di atas sepeda motor.

Tanpa alasan yang jelas, pelaku tiba-tiba marah terhadap Suwarso. Tidak hanya itu. Nuriman juga sempat menghajar korban hingga tubuh pria renta tersebut tersungkur ke tanah.

Mengetahui kejadian itu, Jumini langsung berlari menyelamatkan suaminya. Namun upaya yang dilakukan wanita 45 tahun itu  sia-sia belaka. Sebab, bukannya meredam amarah pelaku, Nuriman justru semakin tersulut emosinya.

Kekesalan itu diluapkan pelaku dengan cara memukuli wajah dan kepala Suwarso berkali-kali. Mengetahui suaminya babak belur, Jumini spontan berteriak minta tolong. Warga setempat yang mengetahui insiden ini  langsung berhamburan menyelamatkan korban.

Merasa dirinya kepergok warga, pelaku akhirnya memilih kabur meninggalkan lokasi kejadian. Sedangkan Suwarso yang mengalami luka parah langsung dilarikan ke RSUD Kanjuruhan, Kecamatan Kepanjen. Namun, dia meninggal dalam perawatan.

”Kasusnya sudah kami limpahkan ke Polres Malang. Sedangkan jenazah korban yang dinyatakan meninggal saat ini sudah dievakuasi ke RSSA (Rumah Sakit Saiful Anwar) Kota Malang guna kepentingan penyidikan,” terang Zaenal kepada MalangTIMES.com.

Terpisah, KBO Satreskrim Polres Malang Iptu Rudi Kuswoyo menyatakan, pihaknya langsung mengerahkan anggotanya guna menelusuri keberadaan pelaku. Hasilnya, sekitar dua hari berselang, polisi mendapat informasi bahwa Nuriman sedang berada di rumahnya di Kelurahan Penarukan, Kecamatan Kepanjen.

Tanpa menunggu lama, polisi langsung menggerebek pria 54 tahun itu  sedang berada di kediamannya, Kamis (22/8/2019) pagi tadi. “Iya, terduga pelaku memang sudah kami amankan. Saat ini kasusnya masih dalam tahap pendalaman,” ucap Rudi.

Hingga berita ini ditulis, polisi masih terus menggali keterangan dari beberapa saksi. Hal itu dilakukan guna mengungkap motif di balik kasus penganiayaan tersebut. Berdasarkan informasi yang didapat wartawan, korban dan pelaku sudah saling kenal. Belakangan diketahui, keduanya sempat menjalin pertemanan karena mereka sama-sama peternak bebek.

Atas dasar inilah, mencuat kabar bahwa motif di balik penganiayaan yang berujung kematian ini didasari rasa dendam. ”Kami belum bisa memastikan motif penganiayaan, kasusnya masih dalam tahap penyidikan,” ujar Rudi.

 


End of content

No more pages to load