Foto ilustrasi (ist)

Foto ilustrasi (ist)



Universitas perlu membangun sikap kritis bagi mahasiswa baru. Khususnya, kepedulian mereka terhadap lingkungan dan berbagai realitas sosial yang ada.

Sikap kritis tersebut harus dibangun sedini mungkin. Sebab, dalam beberapa kurun waktu terakhir, mahasiswa dinilai mulai melempem. 

Hal ini disampaikan oleh Dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Brawijaya (UB) Malang, Akhmad Muwafik Saleh SSos MSi.

"Dalam kurun waktu terakhir ini mahasiswa itu sudah mulai melempem di dalam melihat berbagai persoalan," ucap pria yang juga menjabat sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan FISIP UB tersebut.

Sikap kritis ini biasanya diwujudkan mahasiswa dalam bentuk demo. Kendati demikian, Muwafik tidak ingin mengatakan bahwa demo adalah salah satu bentuk kritis.

"Tapi itu menjadi salah satu bentuk untuk mengkreasikan daya nalar mereka," imbuhnya.

Di saat mahasiswa sudah tidak lagi kritis, lanjutnya, maka sebenarnya matilah dunia kemahasiswaan itu.

"Perubahan-perubahan besar bangsa itu selalu diawali oleh daya kritis mahasiswa. Penolakan mahasiswa atas berbagai macam bentuk kesewenangan, kezoliman, dan macem-macemnya," ungkapnya.

Nah inilah yang perlu dibangun sejak awal sejak mahasiswa masuk kampus.

"Tidak boleh lagi mahasiswa melempem. Dia harus berteriak atas berbagai persoalan-persoalan yang ada di sekitar mereka karena itulah ruh mahasiswa," tandasnya.

Jadi penting untuk membangun karakter kritis dan membangun karakter peduli atas berbagai persoalan yang ada di sekitar.

"Tidak ada kritis, tidak ada peduli, mahasiswa mati. Kalau sudah mahasiswa mati perubahan tidak akan pernah terjadi," pungkasnya.

 


End of content

No more pages to load