Salah seorang masyarakat desa hutan di Dusun Babatan, Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam, Sumito sedang terlihat mengambil air di sungai yang mulai mengering. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Salah seorang masyarakat desa hutan di Dusun Babatan, Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam, Sumito sedang terlihat mengambil air di sungai yang mulai mengering. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)



 Kurangnya pasokan air karena kemarau panjang di Kabupaten Jombang memaksa warga untuk mencari sumber air di sungai yang telah mengering. Warga rela menuruni perbukitan hutan jati sejauh 1,5 kilometer untuk mencapai ke titik sumber air tersebut.

Kondisi seperti itu dialami sejumlah masyarakat desa hutan di Dusun Babatan, Desa Sumberejo, Kecamatan Wonosalam. Salah satunya yakni Sumito (74).

Dikatakan Sumito, kurangnya pasokan air di lokasi ia tinggal sudah terjadi sebulan terakhir ini. Tandon air atau bak penampungan yang biasa terisi dari sumber di Desa Sumberejo kerap kali mengalami keterlambatan.

Saat kondisi keterlambatan air itulah, lanjut Sumito, ia harus bersusah payah menuruni perbukitan pohon jati sejauh 1,5 kilometer untuk mencari sumber air. Sumber air itu terdapat di sungai dasar bukit yang kondisinya sudah mengering.

Warga di sekitar menggali berdiameter kurang lebih 20 sentimeter untuk mencari sisa-sisa air di dasar sungai. Air inilah yang digunakan kakek kelahiran 1945 dan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

"Ini kalau air dari sana itu tidak datang ya ambil di sini. Air ini buat mandi, kadang direbus buat masak begitu," terang Sumito saat mengambil air di sungai, (20/8).

Dijelaskan Sumito, memanfaatkan sisa air di sungai saat musim kemarau ini sudah ia lakukan sejak 5 tahun ini. Ia berharap agar ada bantuan air dari pihak pemerintah.

"Belum ada kiriman air. Seperti warga lainnya, ya kalau bisa kita minta sumbangan air dari Jombang," ujarnya.

Masyarakat desa hutan lainnya Mujianto (52) menuturkan, di lokasi tersebut sudah terdapat 8 tandon air yang disediakan untuk memenuhi kebutuhan air bagi 25 kepala keluarga.

Untuk mengisi tandon air itu, warga sudah menyambungkan pipa ke tandon air utama di Desa Sumberejo yang jaraknya kurang lebih 3 kilometer dari kawasan tinggal masyarakat desa hutan.

Meski begitu, dijelaskan Mujianto, pasokan air ke lokasi ia tinggal kerap mengalami keterlambatan. Untuk mengatasi masalah itu, ia memilih mencari air ke tandon-tandon yang masih terisi air.

"Kalau di tandon ga ada air ya ambil di atas sendiri, di tandon nomer satu. Kalau terpaksa ya ambil di orang kampung atas itu," jelasnya.

Menurut Mujianto, air yang diambil warga di sungai biasanya digunakan untuk keperluan mencuci piring dan baju. Untuk kebutuhan minum tetap mengambil dari sumber air yang ada di tandon di Desa Sumberejo.

"Yang di sungai itu untuk cuci piring, untuk macam cuci baju satu dua itu kalau ndak mau cuci di sungai ya ambil air saja dicuci di rumah. Tapi untuk masak dan minum nggak pernah ambil di sungai," pungkas nya.(*)

 


End of content

No more pages to load