Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko (kenakan seragam hitwm) serta Sekretaris Daerah Kota Malang, Wasto (dua dari kanan) saat berfito bersama dengan perwakilan Puskesmas Janti (Pipit/MalangTIMES)

Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko (kenakan seragam hitwm) serta Sekretaris Daerah Kota Malang, Wasto (dua dari kanan) saat berfito bersama dengan perwakilan Puskesmas Janti (Pipit/MalangTIMES)



Inovasi Braille E Ticket and Extraordinary Access for Visual Disabilities (Brexit) Puskesmas Janti banyak mendapat apresiasi. Dinilai mampu menciptakan kemandirian, inovasi yang sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir itu sekarang sudah mulai dijadikan percontohan oleh beberapa daerah di Indonesia.

Hal itu disampaikan Wali Kota Malang Sutiaji usai memberikan penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Kemenpan RB Tahun 2019 di sela apel pagi yang digelar di halaman Balai Kota Malang, Selasa (13/8/2019).

Menurut Sutiaji, Brexit menjadi salah satu inovasi dari Kota Malang yang sudah banyak dilirik dunia kesehatan. Saat ini, setidaknya ada tiga daerah yang menjadikan inovasi Brexit sebagai percontohan dan mendapat pendampingan langsung dari Puskesman Janti. Tiga daerah tersebut adalah Bandung, Jawa Tengah, dan Bali.

"Jadi mereka langsung ke Kota Malang melakukan studi tiru dan didampingi Kota Malang," katanya.

Inovasi tersebut menurutnya memberikan banyak kemudahan kepada pasien berkebutuhan khusus. Selain layanan di dalam puskesmas, obat yang disediakan pun menurutnya menggunakan huruf braille. Sehingga sangat memudahkan pasien disabilitas, utamanya tunanetra saat akan mengkonsumsi obat yang dianjurkan dokter.

Wali Kota Malang Sutiaji (tengah) didampingi Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko (kenakan seragam hitam) dan Sekretarsi Daerah Kota Malang, Wasto (empat dari kanan) saat berfoto bersama dengan penerima penghargaan Adiwiyata Jawa Timur (Pipit Anggraeni/MalangTIMES)

"Sebelumnya kan obat itu ada tanda khusus. Seperti untuk yang diminum pagi hari ada di sebelah kanan, untuk siang hari diletakkan di tengah dan untuk malam hari ada di sisi kanan. Ini rawan tertukar, dan sekarang sudah menggunakan braille yang lebih memudahkan lagi," jelasnya.

Lebih jauh pria berkacamata itu menyampaikan jika penerapan inovasi Brexit ini tidak membutuhkan biaya besar. Sehingga sangat bisa ditiru di berbagai daerah tanpa harus merogoh kocek dalam-dalam. Rencananya, inovasi itu juga akan diterapkan di beberapa puskesmas lainnya lagi.

Namun untuk saat ini, lanjutnya, hanya diterapkan di Puskesmas Janti. Karena dari total 150 pasien disabilitas atau tunanetra di Kota Malang, setidaknya ada 126 pasien yang mendapat rujukan untuk dirawat di Puskesmas Janti. Sementara sisanya tersebar di kecamatan lainnya. Sehingga tidak menutup kemungkinan inovasi itu diterapkan di puskesmas lainnya.

Selain Brexit, Sutiaji menyampaikan jika ada banyak inovasi lain di Kota Malang yang berhasil masuk dalam seleksi KemenPAN-RB. Namun memang belum semua masuk dalam Top 99. Dia pun menargetkan, Brexit mampu masuk dalam Top 45 inovasi skala nasional.

Sementara itu, selain menyerahkan penghargaan Top 99 Inovasi Pelayanan Publik Kemenpan RB Tahun 2019, Sutiaji juga menyerahkan penghargaan lain yaitu Piagam Penghargaan kepada Sekolah Adiwiyata Provinsi Jatim Kota Malang Tahun 2019 sebanyak 13 sekolah, dan Anugerah Adinata Mandrakanta Triwulan II Tahun 2019.


End of content

No more pages to load