Kedua tersangka (tengah) saat diringkus polisi (Foto : Istimewa)
Kedua tersangka (tengah) saat diringkus polisi (Foto : Istimewa)

Baru-baru ini Polres Malang disibukkan dengan kasus penipuan berskala internasional. Tidak hanya melibatkan pelaku dari dalam negeri saja, beberapa pelaku diketahui juga terlibat dalam skandal penipuan online tersebut.

Seperti yang sudah diberitakan, Rina Liffriani warga Kelurahan Ulu, Kecamatan Jakabaring, Kota Palembang dan Ekene warga negara Nigeria ini diringkus polisi karena kasus penipuan online.

Korbannya adalah AM warga Kelurahan Kemantren, Kecamatan Jabung. Atas aksi penipuan yang melibatkan warga Nigeria tersebut, pria 30 tahun itu mengalami kerugian hingga Rp 36 juta.

Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda menuturkan, aksi penipuan tersebut terjadi pada awal bulan juli lalu. Semula AM sempat berkenalan dengan salah satu komplotan yang diketahui bernama Tonia Rawson melalui aplikasi Speaky. ”Saat perkenalan, pelaku mengaku sebagai seorang Dokter Genelogis di Lenox, di Newyork, USA,” kata Adrian, Senin (12/8/2019).

Tidak lama setelah perkenalan itu terjalin, keduanya akhirnya sepakat untuk bertukar nomor WhatsApp. Belakangan diketahui pelaku men-chat korban menggunakan nomor luar negeri. Selain melalui aplikasi chatting WhatsApp, pelaku juga intens menghubungi korban melalui aplikasi Hangout. ”Percakapan melalui kedua aplikasi tersebut, sempat terjalin selama dua pekan,” sambung Adrian.

Semakin intens, pelaku kemudian menawarkan untuk memberikan hadiah untuk korban dan ibunya. Merasa curiga, AM saat itu sempat menolaknya. Seolah tidak kehabisan akal, pelaku yang mengaku bernama Tonia Rawson itu mengirim foto melalui aplikasi chatting. ”Foto yang dikirim pelaku adalah gambar sebuah koper yang diakui berisi hadiah untuk korban dan ibunya,” ungkap Adrian.

Guna memuluskan aksinya, lanjut Adrian, pelaku juga sempat menyematkan bukti pengiriman paket melalui link www.desalliedexpress.com. Link pengiriman barang yang diketahui merupakan situs fiktif itu, dikirim pelaku melalui aplikasi chatting pada 19 Juli lalu. ”Pelaku sempat memberitahu korban jika koper yang dikirim berisi uang senilai 34.600 Dolar USA atau setara dengan Rp. 468 juta,” imbuh Adrian.

Tiga hari berselang, tepatnya pada 22 juli korban yang terus didesak untuk mengambil hadiah akhirnya merasa penasaran untuk membuka link yang dikirim oleh pelaku. Ketika dicek, paketan misterius itu tertera jika sudah sampai di negara Indonesia, tepatnya di wilayah Bali.

Setelah mengecek melalui situs abal-abal tersebut, pada tanggal 23 juli pelaku tiba-tiba ditelepon oleh nomor tak dikenal. Dalam pengakuannya, si penelpon mengatakan jika dirinya adalah seorang kurir pengiriman Desline Carvis Cargo yang bernama Rina Liffriyanti. ”Pelaku yang menyamar sebagai kurir ini, mengonfirmasi jika paketan yang dikirim untuk korban telah tiba dan siap diambil,” ungkap Adrian.

Korban yang mulai percaya, akhirnya segera mengiyakan pertanyaan kurir tersebut. Selain mengabarkan jika paketan telah tiba di Indonesia, sang pelaku yang menyamar sebagai kurir ini juga memberitahukan jika paket miliknya dikawal oleh seorang agen yang diketahui bernama Ekene.

Guna mendapatkan paketan miliknya, imbuh Adrian, pria yang berusia kepala tiga itu diharuskan untuk membayarkan sejumlah uang. ”Korban diminta mentransfer uang senilai Rp 12.750.000, untuk pembayaran pengiriman paket, cukai, dan asuransi,” imbuh perwira polisi dengan tiga balok di bahu ini.

Tanpa berpikir panjang, korban yang mulai tergiur akhirnya menuruti permintaan pelaku. Uang senilai belasan juta itu ditransfer melalui nomor rekening atas nama Oyah Siti Rokoyah.

Setelah memastikan uangnya benar-benar sudah ditransfer, sang kurir mengatakan jika barangnya akan segera dikirim. Kenyataannya, hingga tanggal 24 juli paketan yang hendak dikirimkan terpaksa dibatalkan sementara. ”Pelaku yang bertindak sebagai kurir ini mengatakan jika barang yang hendak dikirim tidak bisa diantarkan jika tidak dilengkapi dengan sertifikat, lantaran berisi uang yang nominalnya lebih dari Rp 100 juta,” lanjut Adrian.

Belakangan diketahui, sertifikat pengurusan pengiriman barang tersebut harus melalui sang agen yang bernama Ekene. ”Biaya pengurusan sertifikat membutuhkan pembayaran senilai Rp 25.250.000,” tutur Adrian.

Seolah tidak sabar mendapatkan hadiah uang, korban akhirnya pergi ke ATM untuk mentransfer uang kepada pelaku. Namun hingga tanggal 25 juli, paketan hadiah tersebut nyatanya tidak segera dikirim.

Alasannya, pelaku yang menyamar sebagai kurir ini sedang menunggu pihak pengamanan khusus dari Jakarta. Semenjak hari itu juga, korban semakin intens menanyakan kabar selanjutnya akan paketan hadiah miliknya sebelum akhirnya nomor pelaku tidak bisa dihubungi kembali.

Merasa baru saja menjadi korban penipuan, kasus ini akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Petugas yang bergerak melakukan penyelidikan, akhirnya mendapat informasi jika kedua pelaku sedang berada di Jawa Barat.

Ketika diamankan di wilayah Kecamatan Beji l, Kota Depok, Rina Liffriani dan Ekene tak bisa mengelak dan mengakui semua perbuatannya. Dari tangan kedua pelaku polisi juga menyita berbagai barang bukti. Di antaranya beberapa unit handphone, laptop, paspor hingga beberapa kartu ATM.

”Kasusnya masih dalam tahap pengembangan. Diduga kasus penipuan online yang melibatkan warga negara asing ini pelakunya lebih dari 2 orang,” tutup Adrian.