Gus Maksum sesenggukan saat memberikan keterangan pada media / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES

Gus Maksum sesenggukan saat memberikan keterangan pada media / Foto : Anang Basso / Tulungagung TIMES


Editor

A Yahya


Puluhan orang tampak duduk di halaman bangunan mirip sekolah, di depan bangunan ada area parkir yang cukup luas. Saat masuk, terlihat bangunan yayasan dan masjid milik pondok padepokan (sebelumnya tertulis pondok pesantren), yang dikenal dengan padepokan Puthuk atau Watu Gedhek.

Namun, nama itu ternyata hanya dikenal di masyarakat desa Pelem karena menurut pemilik yayasan pondok Padepokan Imam Baihaqi Maksum Adam Idofi (48) yayasan miliknya bernama Bintang Suka Makmur Nusantara. "Pondok ini meski ada santrinya tapi bukan pesantren, sebut saja padepokan," kata pria yang dikenal dengan Gus Maksum itu.

Orang-orang yang berada di padepokan sendiri berasal dari seluruh penjuru daerah dan beragam agama. Beberapa di antaranya tampak salat di masjid ada yang tiduran dan istirahat di cakruk semi permanen mirip gazebo. "Warga sini banyak yang datang, jika anaknya sakit atau ada masalah apa begitu. Tapi ternyata banyak yang tidak suka sama saya," kata Gus Maksum sesenggukan.

Dirinya telah merelakan makam ayahnya yang bernama Suryat Suyono yang meninggal pada usia 76 tahun pada Selasa (06/08) lalu untuk dibongkar atas permintaan dan desakan masyarakat. "Saya relakan karena saya tidak pernah berbenturan dengan masyarakat, itu makam orang tua saya. Tapi saya tidak punya bukti jika beliau orang tua kandung," terang Gus Maksum.

Kenapa Suryat Suyono begitu istimewa dalam perjalanan hidupnya, Gus Maksum menceritakan jika selama ini Suryat orang yang telah memberikan pelajaran hidup dan memberi semangat untuk mencari ilmu hingga pada akhirnya tahun 2005 dirinya memutuskan mukim di desa Pelem. "Beliau ini sama seperti saya, perjalanan hidupnya berpindah untuk mengembara. Bahkan pernah terpisah selama 9 tahun," tutur Maksum.

Hingga pada hari tua, Suryat hidup bersama keluarga Gus Maksum dan tinggal di Pondok Paguyuban yang dia asuh. 
"Yang membuat saya terkejut, saat mau meninggal dia mengatakan bahwa (Kyai) Maemoen sudah pergi, saya harus pergi. Dan saat itu juga, bapak saya minta di suapi dan kemudian meninggal," terangnya.

Sebelum meninggal, Suryat meminta agar dirinya dimakamkan di dekat masjid padepokan yang dia bangun. "Karena terus meminta, saya buatkan lubang (Liang Lahat) agar percaya bahwa beliau akan dimakamkan disini, itulah wasiat dia sehingga akhirnya beliau wafat," tambahnya.

Saat meninggal dirinya berusaha minta izin pemakaman ke kepala desa terpilih Muji Alam yang juga pertahana serta modin yang biasa mengurus pemakaman. "Kami tunggu kedatangannya, akhirnya datang. Saat Mau kita makamkan tiba-tiba dihentikan dan ada keberatan jika dimakamkan disini. Padahal ini wasiat dari Almarhum," jelasnya.

Meski sudah diingatkan dan diminta menghentikan, Gus Maksum tetap menguburkan jenazah Suryat di samping masjid padepokan. Hingga akhirnya, masyarakat datang ke Balai desa untuk meminta agar makam dipindahkan. "Ini Rencana tidak kita makamkan di tempat pemakaman umum (TPU) tapi ke makam Ngadirogo," lanjut Gus Maksum

Makam Ngadiro sendiri berada di Desa Podorejo Kecamatan Sumbergempol dan merupakan malam yang berada di belakang masjid. Di Makam tersebut selain merupakan pemakaman masyarakat juga merupakan makam para tokoh terkenal di kota marmer. Gus Maksum sendiri mengaku mengenal lama pengasuh Pondok pesantren Ngadirogo sejak dipimpin oleh Kyai Jambur karena dirinya sering datang untuk ngangsu kaweruh pada almarhum semasa hidupnya. 


End of content

No more pages to load