KH Muhammad Damanhuri Ketua MUI Kecamatan Campurdarat (Foto  Anang Basso / TulungagungTIMES)

KH Muhammad Damanhuri Ketua MUI Kecamatan Campurdarat (Foto Anang Basso / TulungagungTIMES)



Di tengah situasi yang memanas, Ketua Majelis Ulama Indonesia Kecamatan Campurdarat KH Muhammad Damanhuri menyela untuk bicara pribadi dengan Gus Maksum (48) pengasuh Pondok Padepokan Watu Gedhek Desa Pelem.

Kiai yang juga merupakan pengasuh Pesantren Daruttaibin menegaskan sikap saling menghormati antar umat harus dijadikan dasar penyelesaian.

"Saya katakan pada beliau, kepentingan umum harus kita hormati, saya meminta (Gus Maksum) untuk mengalah. Itu bukan hal yang kalah," kata Damanhuri.

Mendengar jawaban Damanhuri, Gus Maksum yang tadinya meminta agar penyelesaian makam di lokasi pondok dibawa ke ranah hukum akhirnya luluh.

"Selama tidak mengganggu kepentingan umum termasuk kesehatan tidak masalah, tapi menurut kami tempat makam kurang layak. Yang membuat luluh pikiran beliau adalah Muspika dan alhamdulillah menemui kesepakatan," tuturnya.

Setelah di dalam ruangan menerima kesepakatan, warga dikumpulkan untuk dibacakan kesepakatan yang ditandatangani di atas materai.

Isi kesepakatan yang dimaksud adalah, ahli waris almarhum Suryat Suyono yang bernama Imam Syaifudin bersedia memindah jenazah ke makam umum Desa Pelem.

Namun karena pemindahan memerlukan waktu dan tenaga secara teknis, disepakati dilakukan dalam tiga hari kedepan.

Surat pernyataan itu ditandatangani diantaranya oleh Imam Baihaqi (Gus Maksum), Imam Syaifudin selaku ahli waris dan Kaini serta pejabat Kepala Desa Pelem Tumijan.

Setelah kesepakatan dibacakan, warga yang memadati kantor desa Pelem berangsur meninggalkan tempat dengan tertib.

Sebelumnya diberitakan, ratusan warga Desa Pelem Kecamatan Campurdarat Kabupaten Tulungagung menggeruduk balai desa, Senin (12/08) pagi. Warga menuntut agar makam seorang yang diketahui bernama Suryat Suyono di area Masjid Watugedheg milik Gus Maksum untuk dibongkar.

"Kita minta hari ini juga dibongkar, makam itu tidak punya izin dan warga menolak," kata salah seorang warga di depan Muspika dan masyarakat yang hadir.

Warga yang dikomandoi oleh Jilan dan Dwihandono ini menolak makam dari ayah angkat Imam Maksum (Gus Maksum) yang merupakan warga desa Margomulyo  Kecamatan Watulimo Kabupaten Trenggalek.

"Pemakaman itu tidak disetujui karena warga merasa tempat pemakaman tersebut tidak umum dan tidak mengikuti adat istiadat di lingkungan Dusun Pelem saat ini," ungkap perwakilan warga.

Selain itu, warga mengaku resah dan keberadaan makam menimbulkan berbagai pertanyaan karena warga sekitar tidak pernah tahu siapa yang meninggal dunia.

"Penyebabnya apa, karena selama ini Gus maksum tidak pernah sosialisasi dengan warga sekitar dan warga sudah mengetahui bahwa tempat lubang  pemakaman sudah digali," terangnya.

Warga juga telah keliling dari pintu ke pintu rumah warga masyarakat untuk minta dukungan tanda tangan penolakan dan minta agar Gus Maksum hadir pada saat mediasi maupun musyawarah di balai desa.


End of content

No more pages to load