Ilustrasi meteran air (Istimewa)

Ilustrasi meteran air (Istimewa)


Editor

Heryanto


Cara Cerdik PDAM Kabupaten Kuras Dompet Pelanggan  3

Mengetahui  mendapatkan tagihan hingga 7 kali lipat, Ida Rochani warga Desa Ngijo, Kecamatan Karangploso, Kabupaten Malang meminta kepada petugas agar melalukan pengecekan meteran PDAM di rumahnya.

Saat petugas datang ke rumah memang sudah mengecek kondisi meteran apakah terjadi kebocoran atau kerusakan. Sayangnya petugas hanya sekadar menanyakan kondisi air kepada Ida.

“Waktu petugas itu datang ngecek meteran ternyata kondisinya buram enggak jelas atau enggak kelihatan angka meterannya, sudah cuman itu saja,” kata Ida.

Kemudian, petugas itu pun sekadar melakukan pembersihan pada meteran tersebut. Terkait ada kebocoran atau tidak, petugas hanya menjawab bisa jadi kebocoran pada pipa dalam.

“Kalau ada kebocoran di pipa dalam, setiap saya selesai makai meteran ini saya matikan dan pakai seperlunya saja. Jadi kalau selesai saya pakai, meteran saya matikan,” imbuhnya.

Lalu petugas itu menjelaskan bisa saja kebocoran itu terjadi pada tandon. Sayangnya, petugas itu hanya sekadar bertanya tidak mengecek langsung kondisinya.

“Ya hanya sekadar bertanya saja, enggak sampai dicek ke dalam-dalam. Cuman di meteran saja dibersihkan dan sekarang memang angka meteran itu sudah jelas kelihatan. Itu aja enggak ada perkembangan lain selain tagihan yang terus membengkak,“ jelas perempuan asal Kelurahan Songgokerto, Kecamatan Batu ini.

Sejak tagihan yang membengkak hingga mencapai RP 751 ribu dengan pemakaian 214 meter kubik itu, hingga saat ini cuma dilakukan satu kali pengecekan saja oleh petugas.

Padahal, dengan tagihan sebesar itu bisa jadi akan terus terulang pada bulan-bulan berikutnya. Sementara, saat menyampaikan keluhan kepada petugas dan saluran aspirasi yang disediakan tidak ada direspons apapun.

“Kalau hal begini terus dibiarkan kami sebagai pelanggan akan terus dirugikan padahal air  merupakan kebutuhan utama. Saya heran mengapa PDAM Kabupaten Malang yang katanya gembar gembor bisa melayani pelanggannya secara prima kenyataannya kok seperti ini,” kritiknya.


End of content

No more pages to load