Ilustrasi (istimewa)

Ilustrasi (istimewa)



Pasca-gempa Banten M 6,9 yang terjadi beberapa hari lalu, masyarakat kembali diresahkan dengan kemunculan isu prediksi terjadinya gempa berkekuatan M 9,0  disertai tsunami. Viralnya kabar yang tersebar di media sosial itu pun langsung dibantah oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika).

Kemunculan kabar yang menyebut akan terjadi tsunami di beberapa wilayah Indonesia itu memang bukan hanya terjadi sekali. Dalam beberapa bulan terakhir, setidaknya ada dua kabar besar berkaitan dengan prediksi gempa dan tsunami yang cukup membuat masyarakat kebingungan. Berikut dua isu gempa disertai tsunami yang dibantah dan disebut berita tidak benar alias hoax oleh BMKG.

1. Gempa 8,8 SR disertai Tsunami 20 Meter

Peristiwa gempa berkekuatan 8,8 SR (skala Richter) disertai tsunami 20 meter ini disebut-sebut akan terjadi di Pulau Jawa bagian selatan. Kabar tersebut menimbulkan spekulasi negatif dan membuat masyarakat kebingungan.

Melalui akun twitter resminya @infoBMKG, Kepala Bidang Informasi Gempa bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG Daryono saat itu menjelaskan, Indonesia memang merupakan salah satu daerah yang rawan gempa dan tsunami. Khususnya wilayah selatan Jawa.

"POTENSI GEMPA DI SELATAN JAWA (@DaryonoBMKG)
Selama 3 Hari ini saya diminta banyak pihak untuk membuat klarifikasi terkait potensi gempa di Selatan Jawa. Jawaban saya adalah bahwa kita harus jujur mengakui dan menerima kenyataan bahwa wilayah kita memang rawan gempa dan tsunami," cuit @infoBMKG.

Melalui cuitan itu, Daryono juga menjelaskan bahwa  keberadaan zona subduksi lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia merupakan generator gempa kuat. Sehingga wajar jika wilayah selatan Jawa merupakan kawasan rawan gempa dan tsunami.

Dia juga menyampaikan jika wilayah Samudera Hindia selatan Jawa sudah sering terjadi gempa besar dengan kekuatan di atas M=7,0. Sejarah mencatat daftar gempa besar seperti gempa Samudra Hindia tahun 1863, 1867, 1871, 1896, 1903, 1923, 1937, 1945,1958, 1962, 1967, 1979, 1980, 1981, 1994, dan 2006.

Sementara itu, tsunami selatan Jawa juga pernah terjadi pada tahun 1840, 1859, 1921, 1994, dan 2006. Ini bukti bahwa informasi potensi bahaya gempa yang disampaikan para ahli adalah benar bukanlah berita bohong.

"Besarnya magnitudo gempa yang disampaikan para pakar adalah potensi, bukan prediksi. Sehingga kapan terjadinya tidak ada satupun orang yang tahu," tambahnya.

Sehingga, lanjut Daryono, upaya mitigasi struktural dan nonstruktural yang nyata dengan cara membangun bangunan aman gempa harus dilakukan. Selain itu, lakukan penataan tata ruang pantai yang aman dari tsunami serta membangun kapasitas masyarakat terkait cara selamat saat terjadi gempa dan tsunami.

"Inilah risiko tinggal dan menumpang hidup di pertemuan batas lempeng. Sehingga, mau tidak mau, suka tidak suka, inilah risiko yang harus kita hadapi. Apakah dengan kita mengetahui wilayah kita dekat dengan zona megathrust lantas kita cemas dan takut? Tidak perlu cemas dan takut," ujar Daryono.

Semua informasi potensi gempa dan tsunami, menurut Daryono, harus direspons dengan langkah nyata dengan cara memperkuat mitigasi. Dengan mewujudkan semua langkah mitigasi, maka dampak terjadinya tsunami dapat diminimalisasi. Sehingga masyarakat dapat hidup dengan selamat, aman, dan nyaman di daerah rawan gempa.

"Peristiwa gempa bumi dan tsunami adalah keniscayaan di wilayah Indonesia. Yang penting dan harus dibangun adalah mitigasinya, kesiapsiagaan nya, kapasitas stakeholder dan masyarakatnya, maupun infrastruktur untuk menghadapi gempa dan tsunami yang mungkin terjadi," ungkap Daryono.

2. Gempa Berkekuatan 9,0 SR Pasca-Gempa Banten

Belum usai isu gempa disertai tsunami setinggi 20 meter, kali ini isu kembali berkembang di masyarakat melalui media sosial. Disebut-sebut, bakal terjadi gempa dengan kekuatan 9,0 SD pasca-gempa Banten. Kabar itu kembali ditepis oleh BMKG. Bahkan, secara tegas dIsampaikan bahwa itu adalah kabar tidak benar alias hoax.

Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono melalui keterangan tertulisnya menyampaikan, isu yang berkembang tersebut tidak benar. Sebab, peristiwa gempa bumi hingga saat ini belum dapat diprediksi oleh siapa pun. Termasuk kapan, di mana, dan berapa kekuatannya.

Gempa bumi, menurut  Rahmat, terjadi akibat deformasi batuan yang terjadi secara tiba-tiba pada sumber gempa yang sebelumnya mengalami akumulasi medan tegangan (stres) di zona tersebut. Pengaruh penjalaran stres untuk proses selanjutnya secara kuantitatif masih sulit untuk diketahui.

Teori yang berkembang saat ini,  baru dapat dijelaskan bahwa sebuah gempa bumi utama dapat membangkitkan atau memicu aftershocks dan masih sulit untuk memperkirakan gempa besar rentetannya seperti beberapa kasus gempa bumi doublet, triplet (dua atau tiga kejadian Gempa bumi tektonik dalam waktu dan lokasi yang relatif berdekatan).

"Masyarakat diimbau agar tetap tenang namun waspada dan tidak percaya kepada isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Dan yang lebih penting dan urgent adalah melakukan langkah-langkah mitigasi terkait kesiapan sebelum, saat, dan setelah terjadi gempa bumi," kata Rahmat.

Di antaranya dengan menyiapkan bangunan rumah sesuai dengan konstruksi aman gempa, siapkan perabotan-perabotan yang kuat dan dapat menjadi tempat perlindungan sementara saat terjadi gempa, siapkan jalur evakuasi yang aman di lingkungan tempat tinggal. Selanjutnya dianjurkan untuk terus berlatih melakukan evakuasi mandiri, dan terus monitor info BMKG, baik melalui sosial media, mobile apps, website, ataupun kanal-kanal resmi BMKG.


End of content

No more pages to load