Agus Iriyanto menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Banyuwangi

Agus Iriyanto menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Banyuwangi



Agus Iriyanto alias Aik, warga Rogojampi, harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri Banyuwangi. Dia menjadi terdakwa kasus dugaan penganiayaan terhadap Setefanus, warga Desa Dadapan, Kabat. Pria ini didakwa melanggar Pasal 351 ayat (1) KUHP tentang penganiayaan.

Mengacu dakwaan yang ada pada laman Sistem informasi penelusuran perkara (SIPP) Pengadilan Negeri Banyuwangi, peristiwa dugaan penganiayaan ini terjadi di ruang hall Maskot, sebuah tempat hiburan malam, Minggu (20/1/19) lalu. Awalnya, korban bersama temannya datang ke tempat itu sekitar pukul 22.00 WIB Sabtu (19/1/19). Kemudian mereka duduk di sebuah meja.

Sekitar pukul 01.30 WIB, terdakwa yang merupakan pemilik Maskot mendatangi korban. Terdakwa sempat bertanya pada korban ada masalah apa korban dengan terdakwa. Selanjutnya terdakwa memukul korban dengan tangan kanannya sebanyak 2 kali ke arah pelipis mata sebelah kanan. Akibatnya korban mengalami luka lecet pada ujung siku mata kanan.

Di konfirmasi mengenai hal ini, Agus Iriyanto melalui pengacaranya, Deanggra Yodiar Pramanta, menyatakan, kliennya tidak merasa memukul korban, melainkan hanya menghalau saja. “Hanya menghalau, tidak ada upaya untuk memukul dengan sengaja,” katanya.

Menurut Deanggra Yodiar Pramanta, saat itu sedang ada tamu Maskot yang sedang menggelar pesta ulang tahun. Menurut kliennya, korban saat itu hendak mengganggu tamu yang berulang tahun. Selaku owner Maskot , kliennya tidak ingin tamunya terganggu. Sehingga dia datang untuk menghalau korban. “Tapi di dakwaan tidak seperti itu. Intinya dakwaan tidak utuh dan tidak sistematis,” jelasnya.

Sidang kasus ini sudah memasuki sidang kedua dengan agenda tanggapan Jaksa atas eksepsi yang disampaikan Penasehat Hukum Terdakwa. Persidangan dipimpin Ketua Majelis Hakim Saiful Arif. Menanggapi eksepsi terdakwa, Jaksa Penuntut Umum Mulyo Santoso menyatakan eksepsi sudah masuk ke pokok perkara. Mulyo Santoso juga menanggapi eksepsi terkait penerapan pasal yang tidak tepat. 

"Kalau tidak sesuai penerapan pasalnya seharusnya melakukan pra peradilan,” kata Mulyo Santoso dalam persidangan.

Sidang kasus ini ditunda hingga 19 Agustus mendatang. Agenda sidang berikutnya adalah pembacaan putusan sela oleh Majelis Hakim.


End of content

No more pages to load