OMJ yang digelar Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)
OMJ yang digelar Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.(Foto : Malik Naharul/BlitarTIMES)

Dewan Kesenian Kabupaten Blitar kembali menggelar diskusi “Obrolan Malem Jemuah” (OMJ), kali ini dengan tema 'Menggali Spirit Blitar: Bhumi Laya Ika Tantra Adhi Raja'. Kegiatan ini berlangsung pada Kamis (25/07/2019) malam, bertempat di Sekretariat DKKB, Jalan Ahmad Yani, Kota Blitar.

Hadir sebagai pemantik diskusi yakni Wima Brahmantya, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar dan juga Direktur Keboen Kopi Karanganjar. Kegiatan ini program DKKB yang pernah vacuum dan rencananya akan rutin digelar kembali setiap satu bulan sekali.

“Obrolan Malem Jemuah (OMJ) ini merupakan salah satu program dari DKKB yang pernah vacuum dan kali ini kuta coba gali kembali spirit kaum muda di Blitar melalui diskusi dan obrolan yang bermanfaat. Dari sini kami pengen OMJ ini hadir dan menjawab problem kenapa Kebudayaan di Kabupaten Blitar sulit berkembang," ungkap Wima Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Blitar.

Meskipun pada malam itu peserta yang mengikuti diskusi hanya bisa dihitung jari akan tetapi Wima optimis, OMJ akan bisa membawa manfaat dan yang terpenting diskusi yang bermanfaat akan bisa membawa perubahan kecil mulai dari mindset cara berfikir yang lebih baik. Terlebih problematika di Blitar sendiri saat ini banyak sekali temoat nongkrong dan warung kopi yang menjamur, akan tetapi banyak diisi orang-orang yang sekedar nongkrong tanpa ada diskusi dan obrolan yang kurang produktif kebangsaan.

"OMJ ingin mengubah cara pandang yang seperti itu. Jadi sekarang ayo, bagaimana dan dimana pun anda berada mau nongkrong di warung atau di cafe, ayo kita biasakan diskusi. Meskipun kayak sekarang ini ada orang berapa paling ndak kita disini ada perubahan mindset yang nantinya bisa dibawa pulang dan kita tularkan pada orang-orang terdekat kita, mungkin keluarga atau tetangga dan sebagainya," ajak Wima.

Perlu diketahui, tema diskusi yang dibahas pada malam itu yakni dengan Menggali Spirit Blitar: Bhumi Laya Ika Tantra Adhi Raja, sebagai pemantik diskusi, Wima ingin membedah asal usul nama Blitar dari sisi historis dan juga makna Blitar sebagai akronim dari Bhumi Laya Ika Tantra Adhi Raja yang digaungkan sejak sekitar 15 tahun terakhir oleh budayawan Bambang In Mardiono atau Mbah Gudel.

Menurutnya, mungkin tidak berlebihan jika Blitar disebut sebagai bumi persemayaman raja-raja besar pendiri bangsa. Hal ini, dapat dibuktikan dengan adanya beberapa candi yang diyakini (berdasarkan penelitian tentunya) menjadi tempat disemayamkan para raja.

"Salah satunya adalah Candi Simping yang terletak di Desa Sumberjati, Kecamatan Kademangan, Kabupaten Blitar. Berdasarkan dua pupuh dalam kitab Negarakertagama disebutkan Candi Simping sebagai tempat disemayamkannya raja terkemuka pendiri Majapahit yakni Raden Wijaya," ungkap Wima

Selain itu, menurut Wima, tempat yang diyakini sebagai makam tokoh jaman kerajaan lainya adalah Candi Mleri yang letaknya di Desa Bagalenan, Kecamatan Sregat, Kabupaten Blitar, berdekatan dengan situs pertapaan Dewi Kilisuci peninggalan Kerajaan Kadiri.

Menurutnya, dalam kitab Negarakertagama disinggung tentang raja Singashari III yang bergelar Wisnuwardhana yakni Ranggawuni, yang didharmakan dalam wujud arca Sugata(Budha) di Candi Jago(jagagu) dan arca Siwa di Waleri, sebutan lain untuk Candi Mleri.

"Selain kedua tokoh tersebut, disebutkan juga bahwa makam Anusapati berada di Candi Sawentar, yang terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar. Candi yang diduga didirikan pada awal jaman kerajaan majapahit ini disebutkan dalam kitab Negarakertagama bernama lwang wentar," sambung Wima.

Sedangkan tokoh lain yang dimakamkan di wilayah Blitar, tentu saja Presiden Soekarno, sang Proklamator dan presiden pertama Republik Indonesia.

Dari uraian pemantik diskusi yang disampaikan Wima, peserta cukup tergugah untuk saling tanya jawab dan melemparkan pendapat. Seperti halnya sanggahan yang dilemparkan Sadewo, salah satu peserta diskusi OMJ. Menurutnya, Blitar dicurigai lebih besar dari pada hanya sekedar pusara raja-raja. Bahkan jika dihat dari segi geografisnya dan temuan-temuan peradaban yang tersebar diberbagai wilayah, bumi Blitar cukup ideal sebagai sebuah bekas kerajaan

"Saya sendiri curiga Blitar lebih besar dari pada tempat bersemayaman. Dari segi geografisnya Blitar menunjukan tempat ideal untuk sebuah ibukota kerajaan. Hal ini dibuktikan dengan penyebutan nama Gunung Kelud dalam bahasa kawi berarti arah utara, tentu wilayah Blitar yang sekarang dulunya adalah pusat suatu peradaban yang berada di sebelah selatan Gunung Kelud itu sendiri," sanggah Sadewo.

Sementara itu, Wima menjelaskan, penyebutan Blitar sebagai Bhumi Laya Ika Tantra Adhi Raja sebenarnya yang perlu digali ialah spirit dari keberadaan situs-situs cagar budaya yang diidentifikasi sebagai tempat perabuan atau persemayaman para raja-raja pendiri bangsa.(*)