Kantor Balai Desa Duren Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek
Kantor Balai Desa Duren Kecamatan Tugu Kabupaten Trenggalek

Munculnya pemberitaan miring oleh Lembaga Garuda Muda Indonesia (LGMI) Kabupaten Trenggalek soal penyelewengan Anggaran Dana Desa tahun 2019 yang telah dimuat salah satu media online kemaren (19/07/19). Pemerintah Desa Duren, Kecamatan Tugu, Kabupaten Trenggalek, membantah kebenaran berita tersebut.

Dalam tuduhan salah satu media online menyebutkan bahwa Kades Duren diduga melakukan mark up sejumlah tenaga kerja dan membelajakan sendiri material yang dibutuhkan serta tanpa koordinasi dengan elemen terkait serta telah mencairkan anggaran seorang diri pada pelaksanaan kegiatan pembangunan rabat jalan di RT 11 RW 5 Desa Duren.

Basuki Kepala Desa Duren membantah kebenaran berita yang dinyatakan oleh LGMI lewat salah satu media online kemaren, pihaknya mengaku pengelolaan kegiatan rabat jalan sepanjang 240 meter tersebut sudah sesuai dengan proses yang ada.

"Saya sebagai Kades hanya mendampingi Bendahara untuk mencairkan anggaran Dana Desa di Bank Jatim KCP Tugu sebagai pembiayaan rabat jalan, pencairan saya lakukan bersama-sama dengan bendahara desa," ungkapnya Selasa (23/07/19).

Basuki menambahkan pada saat LGMI datang ke balai desa Duren, pihaknya hanya disuruh mengisi kuesioner yang dibawa oleh pihak LGMI dan tanpa menanyakan informasi terkait kegiatan Rabat Jalan.

"Yang saya kecewakan pihak LGMI memuat berita tanpa konfirmasi dengan saya dan juga staf yang ada disini. Mereka hanya memberi saya kuesioner yang hanya boleh diisi oleh saya sendiri," terang Basuki.

Sementara itu, Sukeni selaku Bendahara Desa membenarkan pernyataan Kades, ia menjelaskan bahwa pada pengambilan anggaran di Bank Jatim dilakukannya bersama Kades. Setelah itu semua pembayaran pembiayaan pembangunan tersebut dilakukan bersama Pelaksana Kegiatan (PK).

"Jadi pada pelaksanaan rabat jalan di RT 11 RW 5 dilaksanakan selama enam hari dan dimulai pada tanggal 21 mei sampai 27 mei 2019 kemarin, dengan panjang pembangunan rabat jalan 240 meter," terangnya.

Pada proses pencairan, Sukeni mencairkan anggaran bersama Kades di tahap pertama pada tanggal 22 April sebesar Rp 14.654.000 dan tahap kedua tanggal 28 Mei sebesar Rp 76.550.400 di Bank Jatim KCP Tugu. Semua anggaran sudah termasuk upah pekerja sejumlah 25 orang, dengan rincian 4 orang sebagai tukang dan 21 orang sebagai kuli. Perhari tukang mendapat upah Rp 75.000 dan kuli Rp 65.000.

"Jadi pada saat pencairan tersebut saya datang ke Bank bersama dengan Kades, karena sesuai prosedur pencairan dana desa hanya bisa bilakukan bila saya dan kades datang ke Bank bersama-sama. Selepas itu dalam pembayaran kepada penyedia material dan pekerja saya lakukan bersama dengan PK," jelas Bendahara Desa.

Daryono sebagai Pengelola Kegiatan (PK) Pembangunan Desa Duren, juga menyangkal pemberitaan yang dimuat oleh salah satu media online tersebut. Menurutnya selama ini penggunaan Dana Desa di daerahnya sudah sesuai dengan aturan yang ada dan sudah dikoodinasikan dengan berbagai pihak yang terkait.

"Isu yang menyatakan kalau pak Basuki telah me mark up sejumlah tenaga kerja dan membelanjakan sendiri material tanpa koordinasi dengan elemen terkait itu tidak benar. Pada kegiatan rabat jalan kemaren yang mencari dan bernegosiasi dengan pihak penyedia material adalah saya sendiri, dan yang membayarkan uang untuk penyedia material saya dan bendahara. Selanjutnya yang menangani Tenaga Kerja merupakan Tim Pelaksana Kegiatan," tutur Daryono PK Desa Duren.

Sedangkan untuk pekerja, Daryono mengatakan bahwa upah kerja total sekitar Rp 10 juta selama enam hari. Dari semua pekerja ada satu tukang yang bekerja selama tujuh hari, untuk lainnya tetap enam hari. Sedangkan satu tukang yang bekerja selama tujuh hari tersebut, satu harinya ia merancang pembangunan rabat jalan di lokasi.