Drs. H. Harimas, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso (Kanan) dan Bagus Harianto, Sutradara Film 'Ayu Anak  Titipan Surga' (Kiri). (Foto: isma/BondowosoTIMES)
Drs. H. Harimas, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso (Kanan) dan Bagus Harianto, Sutradara Film 'Ayu Anak Titipan Surga' (Kiri). (Foto: isma/BondowosoTIMES)

“Ayu, seorang anak siswa di sekolah dasar, hidup dalam kondisi yang cukup berat untuk anak berusia sembilan tahun. Keadaan ekonomi yang menghimpit keluarganya dan kepergian seorang sosok ayah tidak membuatnya putus asa dalam mengenyam pendidikan. Bahkan Ia benar – benar menampakkan sifat dan karakter Indonesia dalam dirinya. Bagaimana tidak, sering kali dia mendapatkan perlakuan kasar dari temenya, namun ia balas dengan kebaikan. Beberapa kali dia difitnah, namun tidak sedikitpun ia menyimpan dendam. Ia juga begitu berani menyuarakan kebenaran yang bersumber dari hati nuraninya dan tulus membantu sesamanya. Ia benar – benar anak, sahabat bagi semua. Ia adalah model anak dengan karakter keindonesiaan seutuhnya”.

Sepenggal paragraf diatas adalah review film berjudul ‘Ayu Anak Titipan Surga’ yang dapat dilaporkan oleh Jurnalis BondowosoTIMES.com saat difasilitasi nonton bareng di Cineplex Bondowoso oleh Produser film tersebut, Bagus Harianto, Griya Pelopor Budaya Production dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bondowoso.

Acara nonton bareng tersebut adalah salah satu bentuk sosialisasi dan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) bagi para insan pendidik dan siswa. Para penonton adalah semua Kepala Sekolah SD dan SMP se Bondowoso dan beberapa, awak media, pegawai Dinas Pendidikan dan Kebudayaan sendiri.

“Film ini sangat bagus, saya yang sudah tua begini seorang kakek, saya menangis tadi, terharu melihat bagaimana penampilan anak sekolah, Ayu, yang selalu dijadikan kambing hitam dan dijahatin namun dia tidak mempunyai rasa dendam bahkan di membalas dengan kasih sayang dan cinta” ungkap Harimas, Kepala Dinas Pendidikan dan Budayaan Bondowoso usai menyaksikan film tersebut.

Ia menambahkan bahwa sebenarnya film pendidikan besutan sutradara asal Gempol Pasuruan tersebut tidak hanya dikhususkan untuk guru, kepala sekolah, dan siswa saja namun bagi semua masyarakat yang merasa sebagai orang tua bagi anak – anaknya wajib nonton film tersebut. Ia juga berharap agar film tersebut dapat menginspirasi para guru dan siswa yang ada di Bondowoso.

Sang sutradara film, Bagus, mengatakan bahwa ihwal dari pembuatan film tersebut berawal dari tingginya penyimpangan perilaku anak dan remaja. Ia lantas membeberkan hasil survey nasional tentang pengalaman hidup anak dan remaja yang dilakukan oleh Kementrian dan Pemberdayaan Perempuan dan Komnas Perlidungan anak pada tanggal 9 Mei 2019 disimpulkan bahwa dari setiap 4 anak laki – laki dan perempuan, tiga diantaranya mengalami kekerasan fisik oleh teman sebayanya.

“Pada dasarnya anak sulit sekali digurui dan diberitahu. Dengan adanya visualisasi karakter pada film ini, anak – anak diharapkan dapat meniru perilaku Ayu yang ada di dalam tokoh itu,” imbuhnya.

Saat ditanya tentang bahaya pengaruh gadget atau gawai pintar terhadap tumbuh kembang anak oleh Ismail, aktivis anak dari LSM Anak Nusantara (ANTARA), Bagus akan coba mempertimbangkan untuk memasukkannya dalam sekuel film tersebut selanjutnya.

Film ‘Ayu Anak Titipan Surga’ diprakarsai oleh Dewan Pengurus Nasional Pemuda Pelopor dan Kementrian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. Film ini akan diputar di bioskop di seluruh Indonesia mulai tanggal 1 Agustus 2019 dan diharapkan semua anak bisa menonton film tersebut dengan harapan terdapat perubahan tingkah laku pada diri anak setelah menonton film ini.