Gus Muwafiq saat berbicara di panggung PIONIR di UIN Malang. (Foto: Zico Bonetti for MalangTIMES)

Gus Muwafiq saat berbicara di panggung PIONIR di UIN Malang. (Foto: Zico Bonetti for MalangTIMES)



"Jangan pernah berharap punya bangsa yang kuat kalau perempuan tidak dikasih tempat dan kedudukan."

Kalimat di atas merupakan salah satu statemen yang disampaikan oleh Gus Muwafiq, ulama Nahdlatul Ulama (NU) dari Jogjakarta saat memberi ceramah dalam kegiatan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) Bersholawat bersama Majelis Maulid Jamalul Musthofa dan Ngaji Bareng Gus Muwafiq, Kamis malam (18/7/2019).

Kegiatan tersebut merupakan salah satu kegiatan dalam ajang nasional Pekan Ilmiah Olahraga Seni dan Riset (Pionir) ke 9 yang tahun ini digelar di Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim  (UIN Maliki) Malang.

Di panggung Pionir di lapangan utama UIN Malang Kampus Satu, kiai berambut gondrong itu menyampaikan bahwa perempuan Indonesia adalah perempuan-perempuan mandiri. Berbeda dengan perempuan Arab yang cenderung tidak eksis.

"Perempuan Indonesia mandiri karena pekerjaannya bisa dikerjakan. Orang Arab perempuannya tidak mandiri karena berburu bukan perempuan, perang bukan perempuan, berebut makanan dengan antar suku bukan kerjaan perempuan," bebernya.

Semua itu adalah pekerjaan laki-laki. Maka laki-laki di Arab superior dibanding perempuannya.

Berbeda dengan perempuan Indonesia. Perempuan Indonesia justru bisa bekerja. Contohnya, mipil jagung, menanam padi, memetik kopi,  atau menumbuk padi.

"Makanya perempuan Indonesia itu mandiri. Ditinggal laki-laki pun, masih bisa hidup," tandas pria pernah menjabat sebagai asisten pribadi KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tersebut.

Karena itu, Indonesia menghasilkan perempuan-perempuan yang eksis. Perempuan yang bisa cerewet terhadap laki-lakinya.

Nah, agar perempuan Indonesia tidak lagi cerewet, maka muncul gerakan-gerakan yang membuat perempuan Indonesia tidak eksis lagi. "Makanya agar perempuan Indonesia itu tidak lagi cerewet, dibikin untuk tidak eksis lagi, dibikin tergantung, matanya ditutup, tidak boleh apa-apa, akhirnya eksistensinya turun," ungkapnya.

Sehingga, lanjut Gus Muwafiq, gerakan perempuan tidak lagi punya kemandirian. Namun perlu diketahui, apabila perempuan tidak lagi punya kemandirian, maka bangsa Indonesia ini tidak akan menjadi bangsa yang kuat.

"Dan jangan pernah berharap punya bangsa yang kuat kalau perempuan tidak dikasih tempat dan kedudukan," imbuhnya.

Kepada jamaah malam itu, ia menuturkan, perempuan tidak boleh dibuat emosi batinnya. Perempuan harus dilindungi agar dia tenang, tidak emosi, dan tidak marah. Sebab, kalau sampai perempuan panas hatinya, maka keturunannyalah yang bermasalah.

"Jangan dibikin emosi. Tenangkan dia, sayangi dia karena dia yang menumbuhkan keturunanmu," pesan pria yang lahir di Lamongan 2 Maret 1974 tersebut.

Apabila ingin memiliki keturunan baik, maka cintai dan bahagiakan perempuan. Kalau perempuan bahagia, maka anak akan menjadi anak yang hebat dan akan menyelesaikan problem-problem besar di dunia ini. "Maka jangan berharap bangsa itu maju kalau tidak menghargai perempuan," tegasnya.

Menurut Gus Muwafiq, laki-laki yang hebat adalah laki-laki yang bisa menyenangkan perempuan. "Sekarang mulailah berdoa, jangan pesimis. Betapa beratnya kalau memiliki seorang perempuan, maka limpahkan rezeki untukku agar aku bisa menyenangkan perempuan," pungkasnya.

 


End of content

No more pages to load