Selebaran yang disebar terduga calo masuk UB. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)
Selebaran yang disebar terduga calo masuk UB. (Foto: Imarotul Izzah/MalangTIMES)

Terduga calo yang tertangkap satpam Universitas Brawijaya (UB) Malang lantaran menyebarkan selebaran berisi informasi masuk UB melalui jalur belakang atau orang dalam dilepas oleh polisi Polres Malang Kota, Senin (15 Juli 2019).

Universitas Brawijaya pun menyayangkan tindakan polisi tersebut. Sebab, bisa jadi benar ada orang dalam yang terlibat dalam kasus ini. Apabila polisi menghentikan pengusutan perkara, maka UB tidak akan tahu apakah benar ada orang dalam yang ikut "bermain".

Alasan polisi melepaskan terduga calo ini pun lantaran unsur tindak pidananya tidak terpenuhi. Hal ini dinyatakan oleh Ketua Tim Advokasi Hukum UB, Dr Prija Djatmika SH MSi.

"Polisi bilang ke saya unsur tindak pidananya tidak terpenuhi. Iya kalau memang tindak pidananya selesai, ini kan tindak pidana yang tidak selesai, digagalkan oleh satpam Unibraw," ungkapnya saat memberi keterangan kepada awak media, Rabu (17 Juli 2019) di Rektorat UB.

Djatmika pun berharap polisi melanjutkan pemeriksaan ini sampai membongkar jaringannya sehingga UB tahu siapa orang dalam yang terlibat.

BACA JUGA: UB Menyayangkan Perkara Terduga Calo Masuk UB yang Dilepas Polisi

"Ini kan sudah jaringan. Masa' ini bukan tindak pidana. Masa' dilepas begitu saja, kan tidak mungkin. Tidak logis," terangnya.

Kasus ini dikatakan Djatmika juga adalah kasus nasional karena pelaku juga melancarkan aksinya di perguruan tinggi-perguruan tinggi yang lain.

"Dan kalau begini kan Unibraw tidak tahu orang dalam siapa kalau perkara ini dihentikan begitu saja," imbuhnya.

Padahal, lanjutnya, Rektor ingin tahu siapa orang dalam tersebut. Agar bisa diambil tindakan untuk membersihkan praktik-praktik penipuan seperti ini.

"Jelas kita nggak tahu ada nggak orang dalam atau tidak. Kan kita nggak tahu kalau berhenti begini," bebernya.

Meski melepas terduga calo tersebut, Djatmika berharap polisi akan terus menyelidiki kasus ini. Sebab bisa saja dalam ilmu kepolisian intelijen, pelaku dilepas untuk memancing yang lain.

"Tapi saya mewakili Pak Rektor berharap perkara ini tidak dihentikan. Karena kami pengen membersihkan juga orang dalam. Sehingga tahun depan tidak terjadi lagi," ungkapnya.

UB sendiri memastikan tidak ada jalur belakang di UB dalam penerimaan mahasiswa baru.

"Tidak ada, pasti tidak ada. Kalau ada, dekan akan dicopot, pejabat akan dicopot. Semua murni hasil tes," tegasnya.

Djatmika mengungkapkan, tahun lalu memang ada oknum mantan pegawai UB yang "nakal" yang melakukan aksi semacam ini. Akan tetapi perkara tidak dilanjutkan karena tidak ada laporan dari korban.

"Nah ini sebenarnya momen bagus untuk perkara ini dibongkar betul biar praktik-praktik ke depan tidak ada lagi," imbuhnya.

"Jadi kita mengharapkan saja polisi meneruskan perkara ini sampai terungkap hingga 8 orang yang mengedarkan di 4 pintu masuk Unibraw kemarin tertangkap semua jadi jaringan ini terbongkar. Siapa tahu ada orang dalam yang memang ikut bermain," lanjutnya.

Ketakutan Djatmika, apabila proses hukum ini tidak dilanjutkan dan tidak dibongkar, kasus sebesar ini akan menguap begitu saja.

"Siapa tahu kalimat di situ jalur melalui orang dalam ini abal-abal atau memang ada orang dalam yang terlibat. Kami kepingin penyidik, kepolisian, sebagai pihak yang berwenang bisa mengungkap," pungkasnya.