Pelaku Budaya,  Endin Didik Handoko (foto : Joko Pramono/Jatim Times)

Pelaku Budaya, Endin Didik Handoko (foto : Joko Pramono/Jatim Times)



Pelaksanaan Festival Panji di Kabupaten Tulungagung dianggap gagal oleh pelaku budaya di Tulungagung, Endin Didik Handoko. Festival Panji di Tulungagung yang dipusatkan di Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso dianggap tidak tepat dalam penyelenggaraannya. 

“Kala (menurut) saya gagal, karena ekosistem kebudayaan enggak jalan,” ujar pemilik sanggar budaya Sangtakasta, Sendang tersebut, Kamis (11/7/19) malam.

Festival Panji bermula dari kongres kebudayaan, yang diawali oleh pokok pikiran budaya daerah. Kongres itu menghasilkan beberapa item strategi kebudayaan dan resolusi kebudayaan dari keduanya muncul implikasi kebudayaan.

Implikasi itu diwujudkan dalam kemah kebudayaan, pekan kebudayaan nasional, dan platform Indonesia.

“Platform Indonesiana ini sebenarnya kegiatan yang seharusnya dilaksanakan oleh masyarakat kebudayaan, lembaga kebudayaan,” terang Didik.

Sesuai dengan undang-undang nomor  5 tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan pasal 51, pemerintah sebagai fasilitator. Dalam platform Indonesia bertujuan untuk mewujudkan ekosistem kebudayaan.

“DI Blitar, Kediri dan Malang ekosistem jalan karena ada pengerahan masa, Tapi kenapa di Tulungagung enggak muncul ekosistem kebudayaan nya?” kata Didik lebih lanjut.

Bahkan di Candi Mirigambar yang merupakan situs kebudayaan dan dijadikan salah satu tempat pelaksanaan Festival Panji, tidak melibatkan masyarakat.

Masyarakat harus tahu tentang Festival Panji dan berduyung-duyung menyaksikanya.

Pelaksanaan Festival Panji di Pendopo lanjut Didik menciptakan tontonan yang bersifat eksklusif dan dinikmati oleh segelintir tamu undangan.

“Seharusnya pemerintah sebagai fasilitator , bukan sebagai EO (event organizer), kita melihat ekslusif karena adanya undangan. Kenapa tidak di publish sehingga masyarakat berduyun-duyun menonton kesenian panji ini,” katanya dengan tegas.

Festival Panji di tahun ini mengundang beberapa perwakilan dari luar Jawa Timur, seperti Sulawesi  dan Bali. Bergantian perwakilan ini menampilkan kesenian ali daerahnya dalam Festival Panji di Pendopo Tulungagung.

Sayang pertunjukan ini seperti dikemas ekslusif tanpa adanya masyarakat yang menonton festival ini. Kalaupun ada masyarakat yang menonton, mereka adalah keluarga dari penampil festival panji ini.

Cerita Panji dari Jawa yang mengisahkan Raden Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji timbul pada akhir abad ke-13 dan merupakan sebuah local genius di bidang sastra Jawa. Alur cerita Panji adalah kisah cinta dan petualangan dari Inu Kertapati dan Dewi Sekartaji, dengan berbagai penyamaran dan perkelahian serta peperangan.

Cerita Panji menjadi populer, sangat digemari masyarakat dan menyebar ke seluruh Nusantara. Pada abad ke-19, cerita Panji menyeberang samudera ke Malaysia dan Asia Tenggara dan menjadi salah satu sastra yang digemari masyarakat di Myanmar, Thailand, Kamboja, Laos, Vietnam. dan Malaysia.

Nama Panji menyesuaikan, di Thailand menjadi Inao dan di Malaysia diawali dengan kata Hikayat Cerita Panji menginspirasi seni pertunjukan seperti tari, pentas, wayang(Wayang Beber, Wayang Kelir, Wayang Krucil), dan beragam topeng.

Cerita Panji juga dijadikan di candi-candi dalam bentuk ukiran relief. Pengaruh Panji yang berabad-abad itu dilukiskan oleh Sejarawan Adrian Vickers sebagai “Sebuah Sastra dan Budaya [yang unik] di Asia Tenggara”. Pada tahun 2017, UNESCO menerima naskah-naskah Cerita Panji sebagai Warisan Dunia dan mencatatnya di dalam Memory of The Word (MoW) UNESCO. 

Bagaimana respons pelaksana kegiatan tersebut, simak ulasan selanjutnya hanya di TulungagungTIMES.com

 


End of content

No more pages to load