Ilustrasi cermin (Ist)

Ilustrasi cermin (Ist)



Menuju Kursi Pringgitan 2020  9

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Malang 2020, diprediksi akan memunculkan lebih dari 2 pasangan calon (Paslon). Hal ini dilihat dari jumlah kursi yang diperoleh oleh 8 partai politik di pileg 2019.

Dimana, PDI-Perjuangan dan PKB dimungkinkan akan mengusung paslonnya tanpa berkoalisi dengan parpol lain. Sehingga akan tercipta dua paslon dari mesin politik tersebut. Sedangkan 6 parpol lain, apabila ingin mengusung calonnya, maka koalisi adalah jalan keluarnya.

Dari 6 parpol ini masih dimungkinkan lahir dua paslon, dengan hitungan Golkar, Gerindra dan NasDem, hanya merangkul salah satu parpol tersebut. Serta melahirkan satu paslon dari koalisi dua partai. Sisanya (Demokrat, Hanura, PPP) bergabung dengan salah satu dari 3 partai dan mengusung paslonnya sendiri.

Walaupun, jejak rekam di pilihan bupati tahun 2015 lalu, dengan jumlah parpol pengusung yang sama dengan tahun 2020. Hanya melahirkan dua paslon yang diusung parpol dan satu dari jalur independen.

Apakah nanti jejak Pilbup Kabupaten Malang 2020 akan serupa dengan tahun 2015 lalu? 
Melihat ke belakang, lima partai berkoalisi mengusung Rendra Kresna dan Sanusi sebagai calonnya. Walaupun Golkar bisa mengusung paslonnya sendiri, dengan kursi 12, tapi keputusan partai lebih memilih berkoalisi. 

PKB pun dengan kursi 8 diajaknya bergabung dan menempatkan Sanusi sebagai calon wakil bupatinya. Gerindra (7), NasDem (4) dan Demokrat (3) pun tidak memutuskan untuk membuat koalisinya sendiri. Tapi bergabung dengan Golkar dan PKB.

Hanya PDI-Perjuangan yang mengusung paslonnya sendiri dengan kursi 13 yang dimenangkannya waktu itu.

Melihat kenyataan politik waktu itu, dimungkinkan PDI-Perjuangan di pilkada 2020 juga akan kembali fight mengusung calonnya sendiri tanpa berkoalisi. Apakah akan mengulang pilbup lalu dengan mengusung duo Srikandi (Sri Untari-Krisdayanti) atau mengoplosnya (Sri Untari- Hari Sasongko/ Didik Gatot-Sri Untari).

Sedangkan PKB, masih terbuka untuk memberi ruang calon dari pihak eksternal. Walau memiliki dua kader yang namanya masuk dalam bursa balon kepala daerah. Maka, kalau pun PKB akan memutuskan berkoalisi dengan partai lain, akan ada satu nama kadernya yang diparkir. 

PKB bisa saja menggandeng Golkar sebagai partai peraih kursi di bawahnya  dan menempatkan Siadi sebagai bakal calon wakil bupatinya. Dengan format Ali Ahmad-Siadi atau Sanusi-Siadi. Ini pun bila Golkar yang sejarahnya dalam Pilbup lalu diketuai Rendra Kresna, tidak memilih NasDem yang diisi nama Jajuk Rendra, Kresna Dewanata Phrosakh dan Moh Geng Wahyudi. Sehingga Golkar-NasDem membentuk koalisi dan mengusung calonnya sendiri.

Seandainya PKB mengikuti jejak PDI-Perjuangan, yaitu mengusung paslon sendiri (Gus Ali-Sanusi). Maka sudah ada dua paslon dari dua parpol di pilkada 2020. 

Tetapi tentunya, dengan formasi tersebut, kedua partai tetap membutuhkan dukungan parpol lainnya. Dikarenakan, tanpa adanya dukungan partai lain, misalnya, serta tercipta koalisi di tubuh enam parpol lain. 

Maka akan ada cerita lain juga. Dengan perhitungan kursi yang diperoleh di pileg 2019, apabila enam partai bisa berkoalisi akan terkumpul kursi 26. Dengan jumlah daftar pemilih tetap di tahun 2019 mencapai 1,9 juta dan diprediksi naik 10 persen di tahun 2020.

Lantas bagaimana dengan Gerindra? 
Dengan berbagai hitung-hitungan, dimungkinkan besar partai yang didirikan Prabowo Subianto ini, akan lebih bermain aman. Yaitu lewat koalisi dengan partai lainnya. Walau pun, misalnya tidak mengusulkan kadernya dalam pilkada 2020.
Ini pun mengaca pada pilbup 2015 lalu, dimana Gerindra yang meraih 7 kursi sama dengan tahun ini, lebih memilih untuk bergabung melawan PDI-Perjuangan. Dibandingkan berkoalisi dengan sisa partai lainnya, seperti NasDem dan Demokrat, misalnya.

"Pilkada 2020 masih dempetan dengan pilpres 2019 kemarin. Jadi dimungkinkan juga parpol-parpol khususnya konstituennya, masih akan berjarak. Walau terkadang, peta politik di atas tidak sama dengan yang di bawah," kata Abdul Musawir Yahya, dari Perkumpulan Gerakan Kebangsaan Jawa Timur (PGK JT).

Tapi, kemungkinan paslon lain lahir bisa terjadi, bila enam parpol tidak menjadi pendukung PKB dan PDI-Perjuangan. NasDem punya peluang merangkul Golkar dan mengikutsertakan Demokrat. 

Hal ini dimungkinkan dengan apa yang saat ini diharapkan masyarakat, yaitu lahir pemimpin yang bukan dilihat hanya partainya saja. Tapi, sosok yang diusung oleh partai itu sendiri. Hal ini pun sempat di sampaikan Abdul serta beberapa pengamat politik Malang Raya, "Bahwa yang dicari adalah sosok yang diusung oleh parpol itu sendiri. Di NasDem sosok itu ada di bu Jajuk," ujarnya.

Bila itu terjadi, maka akan ada tiga paslon nantinya yang akan bersaing ketat di Pilkada 2020. Plus dengan kehadiran Hari Cahyono dan dimungkin Wahyu Eko S yang akan melaju secara independen. Maka, akan ada sekitar 4 paslon potensial yang nantinya meramaikan Pilkada 2020 di Kabupaten Malang.

Lantas bagaimana dengan sejumlah nama dari luar partai dan juga memiliki kans besar mewarnai pertarungan pilkada 2020. Ikuti terus berita politik Menuju Kursi Pringgitan 2020 hanya di MalangTIMES.


End of content

No more pages to load