Haki (kanan) calon jamaah haji tertua asal Kota Malang bersama istrinya Satuni saat ditemui di rumahnya. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)
Haki (kanan) calon jamaah haji tertua asal Kota Malang bersama istrinya Satuni saat ditemui di rumahnya. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Raut bahagia tak dapat disembunyikan dari wajah Haki, calon jamaah haji (CJH) tertua asal Kota Malang. Warga Jalan Jodipan Wetan I/5 RT 015 RW 006 Kelurahan Jodipan, Kecamatan Blimbing itu tampak bugar dan penuh suka cita menyambut keberangkatannya ke Tanah Suci, 11 Agustus mendatang. 

Sejumlah perlengkapan haji tampak tertata rapi dalam koper-koper khusus di ruang tamu rumah sederhana milik pria berusia 92 tahun itu. Dari 1.326 CJH asal Kota Malang, Haki menjadi yang paling senior. Saat MalangTIMES.com bertamu, hari ini (9/7/2019) beberapa anak Haki-Satuni tampak terus mendampingi kedua orang tuanya.

Haki mengaku tidak mengetahui pasti usianya saat ini. Meskipun dalam kartu tanda penduduk (KTP) miliknya, tertera tanggal 1 Januari 1927 sebagai tanggal lahir. "Nggak tahu, tapi saat muda dulu setelah kemerdekaan saya merantau ke Malang," terang pria kelahiran Sampang, Madura itu.

Haki remaja nekad merantau tidak hanya untuk mencari kehidupan yang lebih baik. Melainkan, sejak remaja dia telah memendam keinginan untuk berhaji. "Ini kan ibadah. Rukun Islam, ke Malang merantau cari uang," tutur bungsu dari 4 bersaudara itu.
 

Keinginan itu semakin menggebu saat dia sudah berkeluarga dengan Satuni. Bersama perempuan kelahiran Gunung Kawi, 1 Januari 1949 itu Haki dikarunia 12 anak. Jumlah anak yang terbilang banyak itu, membuat Haki harus bekerja keras sebagai tulang punggung keluarga. 

 

Sehari-hari, Haki bekerja sebagai pedagang pakaian di sejumlah pasar tradisional di Malang Raya dan sekitarnya. "Jadi saya jualan ikut hari pasaran, ke Nongkojajar (Pasuruan) dan Wlingi (Blitar) dan di Malang juga," terangnya. Dia naik angkutan umum ke pasar-pasar tersebut. Bahkan profesi itu masih terus dilakoni hingga sebulan menjelang keberangkatan haji.
 

Hasil dari berjualan itu, oleh Haki ditabung sebagian. Tidak dalam jumlah yang konstan, melainkan jika ada sedikit keuntungan di luar untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari yang sederhana. "Kalau ada untung ya ditabung, kadang malah tabungan juga pernah terpakai buat modal dagang," terangnya.
 

Dari nominal Rp 10 ribu hingga Rp 25 ribu, tak kurang dari 67 tahun Haki menabung. Uang simpanan itu, diletakkan di sebuah koper yang mereka miliki. "Saya nabung sendiri, istri nggak tahu. Sekitar usia 25 tahun itu lah mulai menabung di koper, karena saya ini tidak paham dan tidak percaya bank. Maunya saya simpan sendiri asal aman," tuturnya.
 

Dia pun berhasil mengumpulkan uang sekitar  Rp 74 juta setelah sekian lama menabung. Berangkat haji dari buah ketekunan menabung itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi kakek 24 cucu itu. Dia mengaku sangat bersyukur bisa memenuhi rukun Islam ke lima itu. "Saya daftar haji tahun 2014, akhirnya bisa berangkat bersama istri tahun ini," tutur dia. 
 

Satuni, istri Haki menambahkan bahwa menabung selama berpuluh-puluh tahun bukanlah hal yang mudah bagi Haki dan istrinya. Sebab, pasangan ini memiliki 12 anak. Terkadang, uang tabungan untuk haji ikut terpakai kebutuhan rumah tangga. 
 

Dari 12 anak itu, saat ini 10 anaknya masih hidup, sedangkan dua anak lainnya telah meninggal. Dari 10 anak itu, Haki dan Satuni dikaruniai 24 cucu dan 2 cicit. "Kalau ada keperluan untuk keluarga ya diambil dari uang tabungan itu, karena anak saya banyak. Bahkan karena lamanya, pernah hampir dimakan tikus uangnya," tutur Satuni.
 

Untuk berangkat haji, tak ada persiapan khusus yang dilakukan Haki dan Satuni. Hanya saja, ia tak lupa membawa obat-obatan. "Sebelum berangkat rajin minum vitamin, selain itu juga sering jalan-jalan supaya terbiasa," pungkasnya.