Wali Kota Malang Sutiaji (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)
Wali Kota Malang Sutiaji (Arifina Cahyanti Firdausi/MalangTIMES)

Wacana Pemerintah Kota (Pemkot) Malang untuk mewujudkan smart city memang belum bisa terealisasikan dalam waktu dekat. Namun, bukan berarti persiapan dan segala kebutuhan untuk menuju hal tersebut terabaikan.

Wali Kota Malang Sutiaji mengatakan saat ini memang wacana tersebut masihlah sebagai 'Smart Siti Badriah'.  Itu lantaran masih banyaknya kerangka persiapan menuju target pada tahun 2020 mendatang untuk menjadi smart city yang sesungguhnya.

"Sekarang kalau kita sebut ya smart Siti Badriah. Ya orang-orangnya saja yang smart, kotanya belum. Namun, kita tengah menyiapkan kerangka untuk menggapai mimpi smart city itu," ujar Sutiaji  belum lama ini.

Apalagi, saat ini tengah gencar revolusi industri 4.0. Semua perkembangan mengedepankan basis teknologi digital. Karena itu, untuk menggapai mimpi tersebut, salah satu yang tengah dipersiapkan Pemkot Malang yakni mengenai e-budgetting. "Ini salah satunya, agar anggaran dapat dikontrol secara transparan," imbuh  Sutiaji.

Di samping itu, masih ada persiapan aplikasi lain yang saat ini tengah dalam proses inventarisasi. Yakni, sistem pelaporan sekolah, layanan kesehayan, dan aplikasi untuk mempermudah sistem pekerjaan OPD atau e-government.

Nah, memang diakui bahwa mempersiapkan digitalisasi bagi organisasi perangkat daerah (OPD) masih cukup susah. Setidaknya waktu yang dibutuhkan untuk masing-masing OPD sekitar 3 bulan. Sebab, banyak data yang diperlukan untuk masuk ke dalam sistem aplikasi.

"Saya akui memang masih belum. Waktunya cukup lama. Ya 2020 lah nanti ya target kita. Karena kita masih perlu bantuan banyak pihak, termasuk akademisi. Nanti kan perlu dilakukan validasi data secara manual ke komputer, kemudian didata lagi masuk ke aplikasinya," pungkas dia.