Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik HZ menunjukkan barang bukti hasil pengungkapan kasus perdagangan benur lobster
Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik HZ menunjukkan barang bukti hasil pengungkapan kasus perdagangan benur lobster

Aparat Kepolisian mengungkap kasus perdagangan benur lobster, Kamis (27/6/19). Dari pengungkapan kasus ini, polisi mendapatkan sekitar 21.000 benur lobster. Nilai benur lobster ini mencapai Rp 2,6 Milyar.

Dalam penangkapan yang dilakukan sekitar pukul 21.30 WIB, Kamis malam itu, polisi mengamankan 4 orang yang sedang melakukan pengepakan benur lobster.

Keempat pelaku yang diamankan adalah Sigit Sugiarto (33), warga Dusun Ringinsari, Desa/Kecamatan Pesanggaran, Sahrur Rosikin (19), warga Dusun Seloagung, Desa Siliragung, Kecamatan Siliragung, Anton Setiawan (28), dan Imam Nurkhoiri (35), keduanya tercatat sebagai warga Dusun Krajan, Desa/Kecamatan Pesanggaran. Mereka ditangkap di rumah Anton Setiawan yang digunakan sebagai tempat pengepakan.

Kapolres Banyuwangi AKBP Taufik Herdiansyah Zeinardi menyatakan, pengungkapan kasus ini berawal dari informasi masyarakat bahwa ada transaski jual beli benih lobster. Kemudian, tim gabungan Satpol Air dan Resmob Polres Banyuwangi melakukan penyelidikan.

"Akhirnya kita selidiki. Kemudian kita datangi memang benar di sebuah rumah itu didapati para pelaku sebanyak empat orang sedang melakukan packing  baby lobster,” katanya, Jumat (28/6/19).

Di rumah tersebut, sudah ada beberapa kotak stereofoam berisi benur lobstes yang sudah selesai dikemas dan siap dikirim. Rencananya, benur lobster tersebut akan dikirim ke wilayah Serang, Provinsi Banten. Pengiriman akan dilakukan melalui jalur darat dengan memanfaatkan biro jasa pengiriman barang.

Benur lobster yang disita Kepolisian terdiri dari 20.000 benur lobster dalam keadaan hidup yang dikemas dalam 80 kantong plastik. Satu kantong plastik berisi 250 lobster mutiara dalam kondisi hidup. Dan dua kantong plastik berisi total kurang lebih seribu benur lobster jenis pasir dalam keadaan mati. “Nilainya apabila dirupiahkan kurang lebih Rp 2.675.000.000,” jelasnya.

Satu ekor benur lobster jenis mutiara di pasaran dihargai Rp 250.000.- per ekornya. Sedangkan benur lobster jenis pasir dipatok Rp 125.000.- per ekornya. Berdasarkan hasil pemeriksaan, kelompok ini sebelumnya sudah pernah melakukan pengiriman benur lobster sebanyak 3 kali. Polisi kini masih mengejar seorang pelaku yang diduga sebagai pentolan kelompok pengepul benur lobster ini.

Para pelaku, menurut Kapolres dijerat dengan Pasal 92 dan/atau pasal 88 Undang-undang nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan Jo Pasal 2 dan Pasal 7 Permen KP RI Nomor 56/Permen-KP/2016 tentang larangan penangkapan dan/atau pengeluaran Lobster (panulirus spp), Kepiting (seylla spp) dan Rajungan (portonus pelagicus spp) dari wilayah NKRI. “Ancaman hukumannya pidan penjara maksimal 8 tahun dan denda 1,5 milyar,” tegasnya.

Pada kesempatan itu, Kepala Karantina Ikan Banyuwangi, Budi Prihanta menyatakan, benur lobster tersebut akan dilepasliarkan di kawasan konservasi laut, Bangsring Under Water. Pihaknya sudah sering bekerja sama dengan pengelola Bangsring Under Water. “Dari hasil pemantauan penyelam yang ada di sana, benur lobster yang sebelumnya dilepasliarkan di sana berkembang biak,” ungkapnya.