Kapolres Tulungagung,  AKBP Topik Sukendar (foto :  joko pramono/jatimtimes)
Kapolres Tulungagung, AKBP Topik Sukendar (foto : joko pramono/jatimtimes)

Pelaksanaan pemilihan kepala desa (Pilkades) serentak di Tulungagung rawan konflik. Hal itu diungkapkan oleh Kapolres Tulungagung, AKBP Tofik Sukendar, Selasa (25/6/19). Setidaknya 1-3 desa di tiap kecamatan di Tulungagung diprediksi menjadi daerah yang rawan saat pelaksanaan pilkades pada 9 Juli nanti.

Saat ini, kondisi demokrasi pilkades sudah mulai menghangat. Namun hal itu justru menunjukan nuansa demokrasi hidup di kota marmer ini. “Kalau mencuplik presiden Jokowi, namanya demokrasi itu enggak boleh dingin, hangat-hangat tapi jangan kebablasan,” ujar Kapolres.

Hingga saat ini kondisi Tulungagung masih terpantau aman. Pihaknya pun berharap keadaan ini akan terus terjaga hingga akhir pelaksanaan pilkades serentak.

Saat ditanyakan jumlah desa yang rawan akan konflik saat pelaksaan pilkades serentak nanti, kapolres jelaskan di seluruh kecamatan terdapat daerah raawan konflik. “Di tiap-tiap kecamatan setidaknya 1-3 desa yang perlu kita waspadai, meski demikian desa yang tidak kita waspadai rawan kita tetap maksimal dalam pengamanannya,” terang Kapolres.

Untuk pengamanan pelaksanaan pilkades yang di ikuti oleh 239 desa yang tersebar di 18 kecamatan, setidaknya sekitar 2.656 personel dikerahkan. Jumlah itu merupakan personel gabungan dari Polres Tulungagung, bantuan Polres tetangga, bantuan dari Brimob, dalmas Polda Jatim dan TNI.

Untuk desa yang terdapat pusat perguruan silat, pihaknya berupaya memberikan pengertian pada mereka untuk mengesampingkan ego sektoral. Momen pilkades adalah ajang memilih pemimpin. “Kita lebih mengutamakan bagaimana kita memiliki seorang kepala desa yang betul-betul mumpuni dan mengayomi semuanya,”tutur perwira dengan 2 melati di pundaknya itu,

Saat ditanyakan kemungkinan melibatkan perguruan silat dalam pengamanan pilkades, Kapolres memberikan lampu hijau, namun masih tetap dalam pantauan pihak berwajib. “Iya, tapi tidak secara letterlijk mereka akan melakukan pengamanan, nanti kalau seperti itu kita khawatir jadi salah kaprah,” tutur Kapolres.

Setiap desa nantinya akan dijaga 6-15 personil. Untuk Brimob sebanyak 3 kompi (300 personel) nantinya akan ditempatkan di daerah yang dianggap paling rawan konflik. “Di Kecamatan Bandung, Pakel, Besuki, Campurdarat, Ngunut, Kauman dan Ngantru,” terang Kapolres.

Untuk pasukan on call (siaga) sekitar 1 kompi ditambah 1 peleton. Pengamanan ini bertujuan agar pelaksanaan pilkades bisa aman dan tetap kondusif hingga akhir pelaksaan Pilkades serentak.