Senema saat diwawancarai sejumlah wartawan di rumah tetangganya (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)

Senema saat diwawancarai sejumlah wartawan di rumah tetangganya (foto : Moh. Ali Makrus / Jatim TIMES)



Terusirnya Senema dari Rumah Tinggal di Jalan Imam Bonjol Tegal Besar Kaliwates Jember yang sudah belasan tahun ditempati ia bersama keluarganya menimbulkan masalah tersendiri. Ketidaktahuan Senema menyebabkan ia terusir dari rumahnya 23 Mei 2019 lalu. 

Hal ini terjadi setelah sebidang tanah yang dibelinya pada 2002 lalu akta tanahnya masih menjadi satu alias belum dipisah dengan akta aslinya milih H. Syakur yang dijual kepada Ali Mustofa pada 2005, sehingga tanah yang sudah dibelinya, aktanya masih menjadi menjadi satu dengan akta yang tanahnya sudah berpindah tangan.

Upaya yang dilakukan oleh Senema ini sendiri akhirnya buntu. Senema terusir dari rumah yang sudah ditempatinya dan ditampung di rumah tetangga.

“Sejak Puasa pertengahan lalu saya sudah tidak bisa masuk ke dalam rumah saya lagi, karena akses masuk ke rumah gerbangnya digembok,” ujar Senema.

Sementara Ali Mustofa sang pemilik tanah menegaskan, bahwa tanah tersebut merupakan miliknya baik akte mapun bukti PBB (Pajak Bumu dan Bangunan) juga atas nama dirinya, setelah pada 2005 lalu ia membeli tanah tersebut dari H. Syakur.

“Tanah itu adalah hak milik saya mas, kata H. Syakur, Senema bersama suaminya hanya numpang tinggal disitu, dan ketika saya beli mereka tidak keberatan, bahkan saat di Notaris, suaminya yang bernama Sahi ikut mengantar, tapi tidak masuk ke dalam bertemu dengan ruangan Notaris,” ujar Ali saat ditemui media ini didampingi istrinya.

Bahkan Ali sudah mengupayakan jalan tengah dengan memberi ganti rugi kepada Senema sebesar 25 juta, tapi ditolak, hingga olehnya dinaikkan menjadi 30 juta, tapi karena banyak pihak-pihak yang ikut campur tangan, persoalan ini sampai ke Pengadilan Negeri Jember.

“Bahkan saya pernah dilaporkan ke Polisi mas, karena dianggap telah merusak rumah Senema, dan saya buktikan bahwa akte atas nama saya, dan itu adalah tanah saya, hingga kasus ini sampai ke Pengadilan dan hasilnya di pengadilan belum ada keputusan pasti, ya bisa dikatakan saya bisa menang bisa kalah, karena Senema saat ini di bantu oleh LBH dari Peradi, ya kalau begini ya sudah saya ikut mengalir saja apa yang mereka inginkan,” ujar Ali.

Sementara Sutomo salah satu tetangga Senema mengatakan, bahwa rumah tinggal yang ditempati Senema akadnya memang beli dari H. Syakur, tapi dirinya tidak mengerti persoalannya sampai seperti ini.

“Saya waktu itu ikut menyaksikan, kalau pak Sahi membeli sebidang tanah di H. Syakur, memang tanah yang dibeli paling ujung, tapi gak tau kok sekarang seperti ini jadinya, saya hanya kasian dan prihatin dengan yang dialami Senema, apalagi anaknya, dulu sering main disini, sekarang lebih banyak diam, kami dari tetangga hanya bisa membantu pakaian saja, mudah-mudahan persoalan ini cepat selesai,” ujar Sutomo tetangga Senema.


End of content

No more pages to load