Ilustrasi siswa. (Foto istimewa)
Ilustrasi siswa. (Foto istimewa)

Cyberbullying kerap terjadi di kalangan anak-anak atau remaja saat ini. Cyberbullying adalah segala bentuk kekerasan yang dialami anak atau remaja dan dilakukan teman seusia mereka melalui internet. Cyberbullying juga disebut dengan intimidasi dunia maya atau penindasan dunia maya.

Cyberbullying terjadi di mana seorang anak atau remaja diejek, dihina, diintimidasi, atau dipermalukan oleh anak atau remaja lain melalui media internet, teknologi digital atau telepon seluler.

Bentuk dan metodenya beragam. Dapat berupa pesan ancaman melalui surel, mengunggah foto yang mempermalukan korban, membuat situs web untuk menyebar fitnah dan mengolok-olok korban, hingga mengakses akun jejaring sosial orang lain untuk mengancam korban dan membuat masalah.

Motivasi pelakunya pun beragam. Ada yang melakukannya karena marah dan ingin balas dendam, frustrasi, ingin mencari perhatian, bahkan ada pula yang menjadikannya sekadar hiburan pengisi waktu luang.

Mahasiswa Bimbingan Konseling (BK) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) Universitas Negeri Malang (UM) melakukan penelitian untuk menanggapi tindakan cyberbullying di Indonesia yang mengalami peningkatan setiap tahunnya. Mereka adalah Nadya Yaniar Nafis bersama Nur Mega Aris dan Devi Eriska Sari.

Penelitian mereka lolos didanai Direktorat Pendidikan Tinggi (Dikti) dalam program Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) terkait proposal yang berjudul “Motif-Motif Cyberbullying Remaja (Mixed Study Tentang Pola Komunikasi Sosial Media Remaja Malang Raya)”.

Mereka melakukan penelitian dengan pengambilan sampel tiga SMA di Malang Raya, yaitu SMAN 8 Malang mewakili area kota Malang, SMA Negeri 1 Batu mewakili area kota Batu, dan SMA Negeri 1 Kepanjen mewakili kabupaten Malang.

Penelitian yang berlangsung pada Maret-Mei 2019 ini dibimbing oleh Dr. Muslihati, S.Ag., M.Pd. Dari hasil penelitian, didapatkan ada berbagai bentuk cyberbullying yang dilakukan para remaja. "Yaitu mengirim pesan penuh amarah, mempermalukan korban dengan mengposting aib, mencemarkan nama baik dengan mengumbar keburukan, membuat berita hoax, dan lain-lain," beber Aris.

Kasus cyberbullying memiliki dampak yang fatal bagi korbannya. Dampak cyberbullying dapat menyerang psikis, mulai dari perasaan malu, tertekan, depresi bahkan berujung bunuh diri. "Maka dari itu kami ingin meminimalisir hal tersebut dengan buku bacaan yang akan kami buat,” imbuhnya.

Lebih lanjut Aris menjelaskan bahwa buku berisi tentang motif-motif Cyberbullying ini dapat dijadikan pustaka untuk pembaca mengenai bahaya dan cara mengatasi agar tidak sampai melakukan cyberbullying.

Selain itu, mereka juga menghasilkan model intervensi, prevensi, dan kurasi cyberbullying berupa RPLBK (Rencana Pelaksanaan Layanan Bimbingan Klasikal) yang terdiri dari prevensi dan kurasi. "RPLBK tersebut diserahkan kepada konselor sekolah sebagai pedoman untuk memberikan layanan kepada siswa untuk mencegah dan menanggulangi cyberbullying,” terang Aris.