Ilustrasi gagal panen
Ilustrasi gagal panen

Asuransi tani yang diluncurkan oleh pemerintah pada 2015 lalu nyatanya tidak diminati oleh petani Tulungagung.

Dari sekitar 60.000 hektar sawah,  hanya 98 yang ikut dalam asuransi.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura Kabupaten Tulungagung,  Suprapti, Selasa (18/6/19).

“Pendaftarannya memang dihitung per hektar lewat kelompok tani masing-masing. Jadi tidak ada satu persen yang ikut (asuransi),” ujar Suprapti.

Suprapti melanjutkan, padahal dari total luasan lahan, 600 hektar berpotensi gagal panen.

Hal itu diakibatkan oleh serangan hama, bencana kekeringan dan kebanjiran.

Jika dilindungi asuransi, maka tanaman padi yang rusak akan mendapat ganti rugi.

“Bersama DPRD kami sudah stusi banding ke Badung, Bali. Di sana para petani disubsidi untuk ikut asuransi ini,” tutur Suprapti.

Karena itu pihaknya akan meniru dengan mengalokasikan subsidu asuransi. Untuk satu hektar lahan hanya dikenanakan Rp 36.000 per hektar per masa tanam.

“Sudah disetujui untuk memberikan subsidi asuransi. Tapi besarannya yang belum ditentukan,” sambung Suprapti.

Sebenarnya, saat pertama asuransi ini diluncurkan, petani Tulungagung hampir 100 persen ikut asuransi usaha tani tanaman padi.

Namun saat itu tidak ada kejadian bencana, hingga membuat petani merasa tidak butuh asuransi. Tahun-tahun berikutnya jumlah peminatnya terus menurun.

Selain itu ketentuan klaim asuransi ini tidak mencakup padi yang ambruk karena puting beliung. 

Padahal jika padi ambruk saat mulai berbuah, maka dipastikan akan gagal panen. Berbeda dengan padi yang ambruk saat sudah berusia hampir panen.

“Kalau hampir panen padinya ambruk, tinggal diikat dan didirikan lagi masih bisa diselamatkan. Tapi kalau baru njebul (keluar buah), pasti rusak,” papar Suprapti.

Selain itu tingkat kerusakan juga harus mencapai 70 persen. 

Para petani di Beberapa wilayah, seperti Simo Kecamatan Kedungwaru dan di Boyolangu pernah merasakan manfaat asuransi ini.  Dua wilayah ini masuk dalam peta rawan gagal panen.