Ilustrasi ratusan tersangka beserta barang bukti kendaraan bermotor hasil curian saat diamankan polisi, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)

Ilustrasi ratusan tersangka beserta barang bukti kendaraan bermotor hasil curian saat diamankan polisi, Kabupaten Malang (Foto : Ashaq Lupito / MalangTIMES)



Kendaraan bermotor masih menjadi piranti seksi bagi para pencuri. Meski keamanan anti maling sudah didesain sedemikian rupa, nyatanya ratusan aksi curanmor (Pencurian Kendaraan Bermotor) tetap marak terjadi di wilayah hukum Polres Malang.

“Hingga bulan Mei 2019, sudah ada 217 kasus curanmor yang dilayangkan ke Polres Malang,” kata Kasat Reskrim Polres Malang, AKP Adrian Wimbarda, kepada MalangTIMES.com.

Dari jumlah tersebut, bulan Mei menjadi saat dimana pelaku curanmor gencar melancarkan aksinya. Pada saat itu, Polres Malang disibukkan dengan 54 kasus. Sedangkan di bulan Januari dan Maret jumlah perkaranya sama. Yakni masing-masing 43 perkara.

Lanjut, di bulan April ada 40 kasus. Kemudian di bulan Februari ada 37 laporan curanmor, yang ditanggani polisi. “Terhitung sejak bulan Mei, ada 19 kasus yang berhasil kami ungkap,” sambung Adrian.

Para pelaku yang langsung mempreteli plat nomor dan kendaraan hasil curian, menjadi faktor utama minimnya kasus curanmor yang berhasil diungkap petugas. Selain itu, kendaraan hasil curian, yang langsung dilarikan ke luar kota, disinyalir juga menjadi penyebab susahnya petugas melacak keberadaan pelaku dan barang bukti. “Kecamatan Singosari, Kepanjen, dan Gedangan menjadi daerah paling rawan curanmor,” terang Adrian.

Perwira polisi dengan tiga balok di bahu ini menambahkan, jika melihat catatan kepolisian, angka curanmor memang selalu mendominasi. Terhitung ada 320 berkas perkara curanmor, yang ditangani Polres Makang sepanjang tahun 2018 lalu. “Dari 320 berkas perkara, sebanyak 47 diantaranya berhasil kami ungkap,” tutup Adrian.


End of content

No more pages to load