Sejumlah dosen dan karyawan Undar saat berunjuk rasa menuntut gaji yang tak terbayar selama 7 bulan di depan kantor Yayasan Undar. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)
Sejumlah dosen dan karyawan Undar saat berunjuk rasa menuntut gaji yang tak terbayar selama 7 bulan di depan kantor Yayasan Undar. (Foto : Adi Rosul / JombangTIMES)

Puluhan dosen dan karyawan Universitas Darul 'Ulum (Undar) Jombang mendemo kantor Yayasan Undar menuntut gaji yang selama 7 bulan tidak dibayarkan.

Aksi unjuk rasa ini digelar di depan kantor Yayasan Undar yang berlokasi di sebelah selatan gerbang pintu masuk kampus, pada Senin (27/5) sekitar pukul 11.00 WIB. Massa aksi tercatat ada 65 orang yang terdiri dari dosen dan karyawan Undar.

Dalam aksi tersebut, massa unjuk rasa terlihat membawa spanduk bertuliskan tuntutan aksi. Salah satunya yakni mengenai gaji yang 7 bulan belum terbayarkan. Pada spanduk tersebut juga tertulis bahwa gaji dosen dan karyawan di bawah UMK (Upah Minimum Kabupaten).

Korlap aksi, Suhudi mengatakan bahwa gaji dosen antara Rp 1,5 - 2 juta sudah 7 bulan belum terbayarkan. Hal inilah yang mendorong dosen dan karyawan berunjuk rasa.

"Terhitung tanggal 1 Mei 2019 sudah 7 bulan tidak dibayar. Sebagian karyawan juga tidak dibayar, lah ini yang mendorong kita demo ini," jelasnya saat diwawancarai seusai aksi di depan kantor Yayasan Undar.

Suhudi juga menjelaskan, bahwa sebelumnya pihak dosen sudah berupaya untuk memperjuangkan gajinya ke pihak dewan pengupahan Kabupaten Jombang hingga ke Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Timur. Namun upaya yang dilakukan oleh forum dosen tersebut tak membuahkan hasil.

"Saat itu dimediasi tidak bisa. Ketika dimediasi itu dari pihak yayasan ngomong terus tidak biasa diatur. Akhirnya mediasi dihentikan," ujarnya.

Meski gaji dosen dan karyawan Undar belum dibayarkan, namun mereka enggan untuk melakukan aksi mogok kerja. Proses perkuliahan masih aktif berjalan normal.

"Ini anehnya Undar. Sudah tidak digaji 7 bulan tapi masih tetap kerja," pungkasnya.

Sementara, aksi demonstrasi dosen dan karyawan menuntut gaji ini tak ditemui oleh satupun petugas maupun pengurus yayasan Undar. Melihat tidak ada pengurus yayasan, massa aksi membubarkan diri.(*)