Ilustrasi, net

Ilustrasi, net



Minggu kedua bulan Ramadlan 1440 Hijriyah, pembuat menu buka puasa kebanjiran pembeli yang berbelanja sayuran siap saji. Diantara makanan yang tersedia di bakul dadakan beragam hingga puluhan jenis menu untuk buka puasa dan sahur.

"Jika masak sendiri lebih boros, jadi mending beli dengan banyak menu pilihan buat saya, anak dan ayahnya," kata Binti (28) warga Kepuh Kecamatan Boyolangu Kabupaten Tulungagung Senin (20/05) sore.

Dari ragam masakan yang diantaranya lodeh, bening, gulai, bothok, brengkes, terancam, gorengan dan masakan sejenis yang di jual dengan paket ekonomi antara harga seribu hingga 7 ribu rupiah satu jenis menu.

"Jika saya buka senang dengan terancam, karena segar dan sahurnya dengan bothok atau brengkes," tambah Binti.

Sementara itu ditempat yang sama, Kairul (46) warga Beji mengaku jika selama puasa dirinya mengurangi makanan berat termasuk nasi.

"Buka cukup minum air putih, rokokan dan kadang hanya makan rondo royal (tape goreng) satu butir dan saya pergi ke masjid untuk magrib hingga traweh," jelasnya.

Bakda traweh, Kairul mengaku sering enggan makan nasi atau makanan sejenisnya. Justru dirinya lebih sering menikmati rucuh atau makanan manis yang sudah di siapkan istri atau selalu tersedia rutin di tempat ibadah untuk umat yang sedang tadarusan.

"Malas saya makan nasi, perut seperti sebah begitu. Dengan mengurangi makan saya merasa kesehatan lebih bagus dan fit," paparnya.

Namun meski malas makan nasi, jika sahur tiba Kairul bersama keluarga menekankan makan nasi meski tidak banyak untuk menjaga kesehatan hingga buka puasa tiba.

"Nasi tetap kita makan saat sahur, buka kadang-kadang. Memang puasa ini bagi saya membawa berkah kesehatan yang baik," tuturnya.

Kairul yang bekerja sebagai kuli bangunan dan buruh serabutan di sawah itu mengaku juga tetap beraktivitas mencari nafkah untuk keluarga.

"Tetap kerja keras, buat mencukupi kebutuhan lebaran yang tidak terlalu lama lagi," pungkasnya.


End of content

No more pages to load