Es roti Lapangan Sampoo, Kota Malang yang disajikan khas dengan adanya tawon atau lebah. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)

Es roti Lapangan Sampoo, Kota Malang yang disajikan khas dengan adanya tawon atau lebah. (Foto: Nurlayla Ratri/MalangTIMES)



Ingin menikmati kuliner legendaris dengan sensasi menantang di Kota Malang, pelancong bisa mengunjungi gerobak es roti tawon. Berlokasi di Jalan Sempu, Kecamatan Klojen, es roti pojokan Lapangan Sampoo merupakan salah satu kuliner legendaris yang cocok dijadikan jujukan nostalgia jajanan tempo dulu.

Gerobak kecil berwarna biru, sederhana, bahkan tampak usang. Namun belasan hingga puluhan orang rela antre di sekitar gerobak es roti Lapangan Sampoo ini. Es roti memang menjadi salah satu minuman favorit warga Malang, khususnya di momen Ramadan. 

Sebagian warga menilai, minuman yang sudah ada sejak tahun 1968 ini cocok untuk takjil berbuka puasa. Jika pada hari biasa, minuman ini dijual sejak pukul 09.00 WIB, namun saat Ramadan, penjualnya baru buka sekitar pukul 14.00 WIB.

Tak ada tempat khusus bagi pengunjung untuk minum es. Hanya ada bangku dan meja sederhana yang diletakkan di bawah pohon besar yang letaknya tepat di depan gerobak es. 

Untuk mendapatkan segelas es bercampur roti tawar, pembeli hanya cukup merogoh kocek Rp 4 ribu rupiah. Jika tidak ingin minum es tanpa roti, harganya hanya Rp 3 ribu per gelasnya. 

Ciri khas penyajiannya, es di gelas yang penuh, kemudian ditutup roti tawar yang sudah disiram gula. Tak jarang, ketika makan ada banyak lebah atau tawon dalam bahasa setempat, yang mengelilingi es. Namun, itulah salah satu sensasi minum es roti.

Warga asal Malang, sebagian besar sudah familiar dengan rasa es roti di Lapangan Sampoo. Bahan campuran es ini sebenarnya cukup sederhana. Hanya santan, sedikit tape ketan hitam, dawet, gula, es serut, dan roti tawar. Campuran bahan itu membuat es roti ini berasa manis, ditambah sedikit masam dari tape ketan hitam, serta ada campuran gurihnya roti tawar. 

Santono, pedagang es roti tidak menyangka jika minuman dagangannya digemari warga Malang 50 tahun belakangan ini. Awalnya, ia menjual es roti dengan gerobak pikul. Ketika itu, Santono masih berusia 19 tahun.  Kini, ia dibantu anak dan istrinya melayani pembeli es yang tak pernah sepi. "Saya sudah mulai mengajari anak saya jualan es ini, supaya nanti bisa diteruskan," ungkap pria 69 tahun ini.

Ia mengaku tidak ada resep khusus yang digunakan untuk membuat es roti itu. Hanya saja, Santono menjamin jika cita rasa es itu tetap sama sejak 50 tahun lalu hingga sekarang. "Bahan-bahannya sama, tidak ada yang istimewa," tuturnya.

Eka Wulandari, salah seorang pembeli es roti Malang mengaku sangat gemar minum es tersebut. Bahkan ia sering membeli es itu sejak kecil. "Dulu saat masih kecil sering diajak orang tua saya minum es di sini, sekarang juga masih sering ke sini. Apalagi kalau buka puasa minum es ini, segar rasanya," tandas wanita 24 tahun ini.


End of content

No more pages to load