Salah satu petani saat menanam andewi di Kelufahan Temas, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)
Salah satu petani saat menanam andewi di Kelufahan Temas, Kecamatan Batu. (Foto: Irsya Richa/MalangTIMES)

Hasil panen setiap petani memang tidak selalu menguntungkan, kadangkala saat masa panen ada yang kondisinya buruk atau gagal panen. Untuk mengatasi hal itu rupanya Pemkot Batu mulai memberikan solusi.

Solusi yang diberikan itu adalah dengan memberikan perlindungan usaha tani dalam bentuk asuransi pertanian. Apalagi Kota Batu sebagai daerah agrowisata yang memiliki lahan pertanian cukup luas yakni mencapai 10.834,48 hektar.

“Ini merupakan upaya kami untuk menghindari meruginya petani akibat gagal panen. Yang seperti ini sangat dibutuhkan oleh para petani,” kata Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pertanian Kota Batu, Heru Mulyanto.

Ia menambahkan, saat petani mengalami gagal panen akibat bencana atau hama bisa dicover oleh asuransi. Asuransi pertanian sangat penting untuk dimiliki.

Keuntungannya bagi para petani akan memiliki beberapa manfaat. Manfaat tersebut tidak hanya melindungi petani dari resiko yang terjadi akibat gagal panen.

“Tapi mendorong peningkatan pendapatan petani. Sayangnya saat ini petani di Kota Batu hampir seluruhnya belum mengikuti asuransi pertanian,” ungkapnya.

Sehingga saat terjadi gagal panen tidak ada yang menanggung. Sebab Dinas Pertanian Kota Batu hanya sekadar memberikan bantuan berupa sarana produksi, bibit, dan subsidi pupuk bagi kelompok tani.

Sayangnya lagi untuk saat ini asuransi hanya bisa berlaku bagi pertanian padi di Kota Batu. Yang dalam pelaksanaanya bekerja sama dengan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) Jasindo. Pertanian padi sendiri di Kota Batu memiliki luas lahan kurang lebih 510 hektar.

"Untuk saat ini asuransi pertanian masih untuk petani padi. Tentu kedepan akan diupayakan untuk tanaman hortikultura di Kota Batu," imbuhnya.

Sedang di Kota Batu ada sekitar 6.252 petani di 220 kelompok tani yang menanam di lahan seluas 10.834,48 hektar.